<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>MEDIA KELUARGA SAKINAH</title>
	<atom:link href="http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://mediakeluargasakinah.wordpress.com</link>
	<description>Penerbit Buku Bacaan Sehat Islami untuk Keluarga</description>
	<lastBuildDate>Fri, 01 Jul 2011 18:21:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='mediakeluargasakinah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>MEDIA KELUARGA SAKINAH</title>
		<link>http://mediakeluargasakinah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/osd.xml" title="MEDIA KELUARGA SAKINAH" />
	<atom:link rel='hub' href='http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>BELAJAR BAHASA ARAB</title>
		<link>http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/2011/07/01/belajar-bahasa-arab/</link>
		<comments>http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/2011/07/01/belajar-bahasa-arab/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jul 2011 15:57:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mediakeluargasakinah</dc:creator>
				<category><![CDATA[IKLAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[KENAPA KITA PERLU BELAJAR BAHASA ARAB ??? Alasan 1: Agar kita tidak seperti ORANG MABUK ketika sholat Saudara-saudari yang kami cintai karena Alloh… Alloh Subhanahu wa Ta’ala melarang kita sholat dalam keadaan mabuk. Kenapa ??? Agar kita sadar dengan bacaan sholat yang kita ucapkan. Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ”Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mediakeluargasakinah.wordpress.com&amp;blog=12086050&amp;post=76&amp;subd=mediakeluargasakinah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p align="center"><a href="http://pustakalaka.wordpress.com/2011/06/25/kenapa-kita-perlu-belajar-bahasa-arab/"><strong>KENAPA KITA PERLU BELAJAR BAHASA ARAB ???</strong></a></p>
<p align="center"><strong> <a href="http://pustakalaka.files.wordpress.com/2011/07/images.jpeg"><img class="aligncenter size-full wp-image-97" title="images" src="http://pustakalaka.files.wordpress.com/2011/07/images.jpeg?w=123&#038;h=123" alt="" width="123" height="123" /></a></strong></p>
<p align="center"><strong>Alasan 1: </strong>Agar kita tidak seperti <strong>ORANG MABUK</strong> ketika sholat</p>
<p align="center"><strong>Saudara-saudari yang kami cintai karena Alloh…</strong></p>
<p align="center">Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> melarang kita sholat dalam keadaan mabuk.</p>
<p align="center"><strong> Kenapa ???</strong></p>
<p align="center">Agar kita sadar dengan bacaan sholat yang kita ucapkan.</p>
<p align="center">Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p align="center">”Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati sholat ketika kamu dalam keadaan mabuk sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan.”</p>
<p align="center">(QS. An-Nisa [4]:43)</p>
<p align="center"><em>Alhamdulillah</em>, sekarang ini kita tidak pernah melihat ada orang yang sholat dalam keadaan mabuk. Namun, apakah lantas mereka sadar dengan yang mereka ucapkan ketika sholat??? Apakah lantas mereka mengerti bacaan sholat mereka??? Entahlah.</p>
<p>Coba saja tanyakan sendiri kepada mereka:</p>
<ul>
<li>Sudahkah mereka mengerti do’a istiftah yang mereka baca?</li>
<li>Sudahkah mereka mengerti makna dari surat al-fatihah yang mereka baca?</li>
<li>Sudahkah mereka mengerti makna dari ayat-ayat al-Qur’an yang mereka baca?</li>
<li>Sudahkah mereka mengerti zikir yang mereka baca ketika rukuk?</li>
<li>Sudahkah mereka mengerti zikir ketika i’tidal?</li>
<li>Sudahkah mereka mengerti zikir ketika sujud?</li>
<li>Sudahkah mereka mengerti bacaan duduk di antara dua sujud?</li>
<li>Sudahkah…..? Sudahkah….?</li>
</ul>
<p align="center"> </p>
<p align="center"><strong>Alasan 2: </strong>Agar <strong>SHOLAT </strong>kita <strong>KHUSYUK</strong></p>
<p align="center">Khusyuk dalam sholat merupakan sebuah kewajiban. Dan salah satu sarana agar bisa khusyuk dalam sholat adalah mengerti bacaan sholat yang diucapkan.</p>
<p align="center"><strong>Alasan 3:</strong> <strong>ALLOH</strong> <strong><em>Subahanahu wa Ta’ala</em></strong> <strong>MENYURUH</strong> kita</p>
<p align="center">Kita diperintahkan Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> untuk mentadaburi al-Qur’an.</p>
<p align="center">Alloh <em>Subhanahu wa Ta’a</em> berfirman:</p>
<p align="center">“Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Quran,</p>
<p align="center">ataukah hati mereka terkunci?”</p>
<p align="center">(QS. Muhammad: 24).</p>
<p align="center">Namun kita tidak akan mungkin bisa mentadaburi al-Qur’an secara sempurna</p>
<p align="center">tanpa kita mengerti bahasa Arab.</p>
<p align="center"><strong>Saatnya kita belajar BAHASA ARAB !!!</strong></p>
<p align="center"><strong>Pingin belajar BAHASA ARAB tanpa harus keluar rumah ???</strong></p>
<p align="center"><strong>Ikutan aja….</strong></p>
<p align="center"><strong> PELATIHAN </strong><strong>BAHASA ARAB</strong><strong> </strong><strong>JARAK JAUH</strong><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>UNTUK ORANG AWAM</strong></p>
<p align="center"><a href="http://pustakalaka.files.wordpress.com/2011/07/images_003.jpeg"><img class="aligncenter size-full wp-image-98" title="images_003" src="http://pustakalaka.files.wordpress.com/2011/07/images_003.jpeg?w=143&#038;h=143" alt="" width="143" height="143" /></a></p>
<p align="center"><strong>CARA belajarnya GIMANA ???</strong><strong></strong></p>
<p align="center"><strong>Anda cukup mempelajari modul yang kami berikan di rumah masing-masing</strong></p>
<p align="center"><strong>Jika ada yang belum faham, Anda bisa bertanya VIA SMS</strong></p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"><strong>MODUL apa yang digunakan ???</strong><strong></strong></p>
<p align="center"><strong>Modul yang digunakan berasal dari kitab FAHIMNA yang disusun oleh TIM PENGKAJI BAHASA ARAB PUSTAKA LAKA. </strong></p>
<p align="center">Kitab <strong>FAHIMNA</strong> merupakan intisari dari kitab-kitab bahasa Arab yang sudah lebih dahulu beredar. <strong>Kitab ini disusun khusus untuk ORANG INDONESIA dan dibuat sedemikian rupa agar bisa DIPELAJARI SENDIRI oleh mereka yang baru pertama kali belajar bahasa Arab. Penyusunan materi dalam kitab ini berdasarkan PENGALAMAN BELAJAR &amp; MENGAJAR TIM PUSTAKA LAKA di berbagai tempat &amp; kalangan. Di dalamnya terdapat: teori, contoh-contoh, soal-soal latihan, dan soal ujian kenaikan kelas.</strong></p>
<p align="center"> </p>
<p align="center"><strong>Kenapa dilakukan jarak jauh?</strong><strong></strong></p>
<p align="center">Agar peserta pelatihan bisa memilih waktu belajar sesuai dengan waktu yang diinginkan. Dan peserta pelatihan bisa mengkondisikan lingkungan belajarnya sendiri.</p>
<p align="center"><strong>Apa Target yang Ingin Dicapai?</strong><strong></strong></p>
<p><strong>Kami berharap, setelah mengikuti pelatihan ini peserta pelatihan:</strong></p>
<ul>
<li>Menguasai kaidah dasar bahasa Arab sebagai bekal untuk melanjutkan ke tingkat berikutnya.</li>
<li>Mengetahui kedudukan sebuah kata dalam kalimat.</li>
<li>Bisa membuat kalimat sederhana dalam bahasa Arab.</li>
<li>Mengerti doa dan dzikir dalam sholat.</li>
<li>Mengerti ayat-ayat al-Qur’an yang dibaca.</li>
<li>Bisa membaca kitab gundul untuk tingkatan pemula.</li>
</ul>
<p align="center"><strong>Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai target di atas?</strong><strong></strong></p>
<p align="center">Untuk menguasai kaidah dasar bahasa Arab (Nahwu-Shorof), ada <strong>6 KELAS</strong> yang harus dilewati. <strong>Masing-masing kelas membutuhkan waktu + 1 BULAN</strong>. <em>Insya Alloh</em> dalam waktu <strong>+ 6 BULAN (bahkan bisa kurang)</strong>, Anda sudah bisa memahami kaidah dasar bahasa Arab sebagai bekal memahami Al-Qur’an, hadits, do’a, dzikir, dll. Jadi sangat tergantung pada kerajinan dan kesungguhan peserta pelatihan dalam belajar. Kalau peserta pelatihan bisa belajar rutin setiap hari, insya Alloh dalam waktu <strong>sekitar 3-4 bulan</strong>, bisa mencapai target yang diharapkan.</p>
<p align="center"><strong>BERAPA BAYARNYA ?</strong><strong></strong></p>
<p align="center"><strong>Biaya pendaftaran: </strong><strong>Rp.50.000,-</strong><strong>/</strong><strong>Kelas</strong></p>
<p align="center"><a href="http://pustakalaka.files.wordpress.com/2011/07/images_012.jpeg"><img class="aligncenter size-full wp-image-99" title="images_012" src="http://pustakalaka.files.wordpress.com/2011/07/images_012.jpeg?w=146&#038;h=66" alt="" width="146" height="66" /></a></p>
<p align="center">FASILITAS:</p>
<ul>
<li>Modul Kelas 1 yang berisi teori, contoh-contoh, soal-soal latihan, dan soal ujian kenaikan kelas.</li>
<li>Konsultasi VIA SMS setiap hari.</li>
</ul>
<p align="center"><strong> Kenapa harus bayar?</strong><strong></strong></p>
<p align="center">Ya, kami mohon maaf karena pelatihan ini harus bayar. Sebab untuk menyelenggarakan acara pelatihan ini dikeluarkan dana yang cukup besar. Oleh karena itu terpaksa pelatihan ini dipungut bayaran. Namun, untuk menentukan biaya sebesar <strong>Rp.50.000/kelas</strong> kami sudah rundingkan dengan beberapa kalangan dan mereka mengatakan jumlah ini sudah sangat murah.</p>
<p align="center"><strong>Namun bila Anda merasa KEMAHALAN, anda bisa menggunakan cara lain. Silakan Anda beli sendiri buku-buku panduan belajar bahasa Arab di toko buku. Kemudian Anda minta orang yang mengerti bahasa Arab untuk mengajari Anda (</strong><strong>Sebab kebanyakan buku tata bahasa Arab yang beredar di masyarakat, harus dipelajari dengan bimbingan langsung seorang guru secara intensif</strong><strong>). Jadi, banyak cara yang bisa kita lakukan untuk belajar.</strong><strong> </strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>Kenapa dibuat menjadi 6 kelas dan 6 modul? Kenapa tidak dibuat satu modul saja yang berisi 6 kelas pelajaran?</strong><strong></strong></p>
<p>Ya, kami sengaja membagi pelatihan ini menjadi 6 kelas dengan 6 modul karena beberapa alasan:</p>
<ol>
<li>Kami ingin peserta pelatihan mempelajari bahasa Arab secara santai. Kami tidak ingin membuat peserta pelatihan merasa berat karena melihat banyaknya pelajaran yang harus dilewati.</li>
<li>Kami ingin peserta pelatihan memiliki pondasi yang kuat dalam belajar. Kami ingin peserta kajian betul-betul kuat dalam pemahaman sebuah materi pelajaran sebelum melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi.</li>
</ol>
<p align="center"><strong>AYO IKUTAN !!! MUMPUNG ADA KESEMPATAN !!!</strong></p>
<p align="center"><a href="http://pustakalaka.files.wordpress.com/2011/07/images_010.jpeg"><img class="aligncenter size-full wp-image-100" title="images_010" src="http://pustakalaka.files.wordpress.com/2011/07/images_010.jpeg?w=84&#038;h=124" alt="" width="84" height="124" /></a><strong><br /> </strong></p>
<p align="center"><strong> KETIK SMS: NAMA/ALAMAT LENGKAP/PBAJJ</strong></p>
<p align="center"><strong>KIRIM KE: 0856 9510 4219 / 0898 3636 7655</strong></p>
<p align="center"><strong>Biaya pendaftaran bisa ditransfer ke </strong><strong>BANK MUAMALAT </strong></p>
<p align="center"><strong>no. rek </strong><strong>920 766 5199 </strong><strong>a.n. </strong><strong>Mujianto</strong></p>
<p align="center"><strong>Modul dll. akan segera dikirim setelah transfer. </strong></p>
<p align="center"><strong>Mohon ada pemberitahuan setelah mentransfer.</strong></p>
<p align="center"><strong>UNTUK WILAYAH BOGOR BEBAS ONGKOS KIRIM</strong></p>
<p align="center"><strong>UNTUK LUAR BOGOR ADA TAMBAHAN ONGKOS KIRIM:</strong></p>
<p align="center"><strong>Rp. 5.000,- (Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi)</strong></p>
<p align="center"><strong>Rp. 10.000,- (Pulau Jawa di luar JADETABEK)</strong></p>
<p align="center"><strong>Rp.20.000,- (Luar Jawa)</strong><strong></strong></p>
<p><strong>Info lebih lanjut:</strong></p>
<p><a href="../"><strong>http://pustakalaka.wordpress.com</strong></a><strong> atau hub: Abdul Jabbar: 0856 9510 4219</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>Semoga informasi ini bermanfaat!</strong></p>
<p align="center"><strong>Tim Pengkaji Bahasa Arab Pustaka Laka</strong></p>
<p align="center"><strong>http://pustakalaka.wordpress.com</strong></p>
<p align="center">EBOOK GRATIS</p>
<p align="center"><a href="http://www.4shared.com/document/w3hU-FH1/PERJALANAN_PANJANG_YANG_PASTI_.html"><strong>Perjalanan Panjang yang Pasti Kita Lewati</strong></a></p>
<p align="center"><a href="http://www.4shared.com/document/jyskFH4n/KENAPA_KITA_BUTUH_SHOLAT_BERJA.html"><strong>Kenapa Kita Butuh Sholat Berjama&#8217;ah</strong></a></p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mediakeluargasakinah.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mediakeluargasakinah.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mediakeluargasakinah.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mediakeluargasakinah.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mediakeluargasakinah.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mediakeluargasakinah.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mediakeluargasakinah.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mediakeluargasakinah.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mediakeluargasakinah.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mediakeluargasakinah.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mediakeluargasakinah.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mediakeluargasakinah.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mediakeluargasakinah.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mediakeluargasakinah.wordpress.com/76/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mediakeluargasakinah.wordpress.com&amp;blog=12086050&amp;post=76&amp;subd=mediakeluargasakinah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/2011/07/01/belajar-bahasa-arab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a82e6eceaacc823c3430358364b3d99d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mediakeluargasakinah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pustakalaka.files.wordpress.com/2011/07/images.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">images</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pustakalaka.files.wordpress.com/2011/07/images_003.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">images_003</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pustakalaka.files.wordpress.com/2011/07/images_012.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">images_012</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pustakalaka.files.wordpress.com/2011/07/images_010.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">images_010</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ada Apa Dengan PBAJJ ?</title>
		<link>http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/2011/06/28/ada-apa-dengan-pbajj/</link>
		<comments>http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/2011/06/28/ada-apa-dengan-pbajj/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Jun 2011 16:27:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mediakeluargasakinah</dc:creator>
				<category><![CDATA[IKLAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/?p=72</guid>
		<description><![CDATA[Kenapa dibentuk PBAJJ? &#160; PBAJJ (Pelatihan Bahasa Arab Jarak Jauh) ini dibuat karena beberapa alasan: Pentingnya bahasa Arab bagi kehidupan seorang Muslim. Banyaknya kaum Muslimin yang belum tahu tentang pentingnya bahasa Arab. Banyaknya kaum Muslimin yang ingin belajar bahasa Arab, namun belum ada kesempatan untuk mengikuti kursus bahasa Arab di luar rumah. Banyaknya kaum Muslimin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mediakeluargasakinah.wordpress.com&amp;blog=12086050&amp;post=72&amp;subd=mediakeluargasakinah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kenapa dibentuk PBAJJ?</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>PBAJJ</strong> (Pelatihan Bahasa Arab Jarak Jauh) ini dibuat karena beberapa alasan:</p>
<ol>
<li>Pentingnya bahasa Arab bagi kehidupan seorang Muslim.</li>
<li>Banyaknya kaum Muslimin yang belum tahu tentang pentingnya bahasa Arab.</li>
<li>Banyaknya kaum Muslimin yang ingin belajar bahasa Arab, namun belum ada kesempatan untuk mengikuti kursus bahasa Arab di luar rumah.</li>
<li>Banyaknya kaum Muslimin yang ingin belajar bahasa Arab, namun belum tahu metode yang tepat dalam belajar bahasa Arab?</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oleh karena itu, dalam rangka memasyarakatkan bahasa Arab ke tengah-tengah ummat, dan membimbing kaum Muslimin yang ingin menguasai bahasa Arab, maka dibentuklah PBAJJ.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kenapa dilakukan jarak jauh?</strong></p>
<p>Agar peserta pelatihan bisa memilih waktu belajar sesuai dengan waktu yang diinginkan. Dan peserta pelatihan bisa mengkondisikan lingkungan belajarnya sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kenapa digunakan kitab FAHIMNA?</strong></p>
<p><strong>            </strong>Kitab FAHIMNA merupakan intisari dari kitab-kitab bahasa Arab yang sudah lebih dahulu beredar. Kitab ini disusun agar bisa dipelajari sendiri oleh mereka yang baru pertama kali belajar bahasa Arab.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Kenapa dibuat menjadi 6 kelas dan 6 modul? Kenapa tidak dibuat satu modul saja yang berisi 6 kelas pelajaran? </strong></p>
<p>Ya, kami membagi pelatihan ini menjadi 6 kelas dengan 6 modul karena beberapa alasan:</p>
<ol>
<li>Kami ingin peserta pelatihan mempelajari bahasa Arab secara santai. Kami tidak ingin membuat peserta pelatihan merasa berat karena melihat banyaknya pelajaran yang harus dilewati.</li>
<li>Kami ingin peserta pelatihan memiliki pondasi yang kuat dalam belajar. Kami ingin peserta kajian betul-betul kuat dalam pemahaman sebuah materi pelajaran sebelum melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Apa Target yang Ingin Dicapai?</strong></p>
<p>Kami berharap, setelah mengikuti pelatihan ini peserta pelatihan:</p>
<ol>
<li>Menguasai kaidah dasar bahasa Arab sebagai bekal untuk melanjutkan ke tingkat berikutnya.</li>
<li>Mengetahui kedudukan sebuah kata dalam kalimat.</li>
<li>Bisa membuat kalimat sederhana dalam bahasa Arab.</li>
<li>Mengerti doa dan dzikir dalam sholat.</li>
<li>Mengerti ayat-ayat al-Qur’an yang dibaca.</li>
<li>Bisa membaca kitab gundul untuk tingkatan pemula.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai target di atas?</strong></p>
<p>Sangat tergantung banyak hal. Diantaranya kerajinan dan kesungguhan peserta pelatihan dalam belajar. Kalau peserta pelatihan bisa belajar rutin setiap hari, insya Alloh dalam waktu sekitar 3-4 bulan, bisa mencapai target yang diharapkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kenapa harus bayar?</strong></p>
<p>Ya, kami mohon maaf karena pelatihan ini harus bayar. Sebab untuk menyelenggarakan acara pelatihan ini dikeluarkan dana yang cukup besar. Oleh karena itu terpaksa pelatihan ini dipungut bayaran. Namun, untuk menentukan biaya sebesar <strong>Rp.50.000/kelas</strong> kami sudah rundingkan dengan beberapa kalangan dan mereka mengatakan jumlah ini sudah sangat murah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center"><strong>Jika Anda puas dengan pelatihan ini, silakan ajak kawan-kawan Anda untuk ikut bergabung</strong></p>
<p align="center"><strong>Namun, jika Anda kecewa, mohon hubungi kami </strong></p>
<p align="center"><strong>Saran dan kritik yang membangun dari Anda sungguh kami harapkan</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mediakeluargasakinah.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mediakeluargasakinah.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mediakeluargasakinah.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mediakeluargasakinah.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mediakeluargasakinah.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mediakeluargasakinah.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mediakeluargasakinah.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mediakeluargasakinah.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mediakeluargasakinah.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mediakeluargasakinah.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mediakeluargasakinah.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mediakeluargasakinah.wordpress.com/72/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mediakeluargasakinah.wordpress.com/72/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mediakeluargasakinah.wordpress.com/72/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mediakeluargasakinah.wordpress.com&amp;blog=12086050&amp;post=72&amp;subd=mediakeluargasakinah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/2011/06/28/ada-apa-dengan-pbajj/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a82e6eceaacc823c3430358364b3d99d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mediakeluargasakinah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PELATIHAN BAHASA ARAB JARAK JAUH</title>
		<link>http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/2011/06/28/pelatihan-bahasa-arab-jarak-jauh/</link>
		<comments>http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/2011/06/28/pelatihan-bahasa-arab-jarak-jauh/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Jun 2011 16:25:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mediakeluargasakinah</dc:creator>
				<category><![CDATA[IKLAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[Sudahkah Anda MEMAHAMI ayat Al-Qur’an yang Anda baca? Sudahkah Anda MENGERTI bacaan sholat yang Anda ucapkan? Saatnya kita belajar BAHASA ARAB… Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh berkata, “Bahasa Arab itu sendiri adalah termasuk bagian dari agama, sedangkan mempelajarinya adalah wajib, karena memahami al-Qur’an dan as-Sunnah itu wajib. Tidaklah seseorang bisa memahami keduanya kecuali dengan bahasa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mediakeluargasakinah.wordpress.com&amp;blog=12086050&amp;post=70&amp;subd=mediakeluargasakinah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudahkah Anda MEMAHAMI ayat Al-Qur’an yang Anda baca?<br />
Sudahkah Anda MENGERTI bacaan sholat yang Anda ucapkan?<br />
Saatnya kita belajar BAHASA ARAB…</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh berkata, “Bahasa Arab itu sendiri adalah termasuk bagian dari agama, sedangkan mempelajarinya adalah wajib, karena memahami al-Qur’an dan as-Sunnah itu wajib. Tidaklah seseorang bisa memahami keduanya kecuali dengan bahasa Arab. Dan tidaklah kewaj&#8230;iban itu sempurna kecuali dengannya maka ia (belajar bahasa Arab) menjadi wajib. Kemudian diantaranya ada yang fardhu ‘ain dalam mempelajarinya dan adakalanya fardhu kifayah.”<br />
(Iqtidho, Ibnu Taimiyah: 1/527)</p>
<p>TIDAK ADA waktu untuk kursus bahasa Arab di luar rumah???<br />
Kabar gembira!!! Telah hadir…</p>
<p>Pelatihan BAHASA ARAB Jarak Jauh<br />
untuk BEKAL MEMAHAMI<br />
AL-QUR’AN &amp; bacaan sholat</p>
<p>Biaya perkelas Rp. 50.000,- (Sampai Naik Kelas)<br />
Fasilitas: Modul pelatihan, soal-soal ujian, konsultasi via SMS (SETIAP HARI). (GRATIS)</p>
<p>Untuk menguasai kaidah dasar bahasa Arab (Nahwu-Shorof), ada 6 KELAS yang harus dilewati. Masing-masing kelas membutuhkan waktu + 1 BULAN. Insya Alloh dalam waktu + 6 BULAN (bahkan bisa kurang), Anda sudah bisa memahami kaidah dasar bahasa Arab sebagai bekal memahami Al-Qur’an, hadits, do’a, dzikir, dll.<br />
Pelatihan akan dipandu oleh para pengajar yang sudah berpengalaman</p>
<p>Anda berminat untuk belajar ???</p>
<p>KETIK SMS: NAMA/ALAMAT LENGKAP/PBAJJ<br />
KIRIM KE: 0856 9510 4219 / 0898 3636 7655<br />
Biaya pendaftaran bisa ditransfer ke BANK MUAMALAT no. rek 920 766 5199 a.n. Mujianto<br />
Modul dll. Akan segera dikirim setelah transfer. Mohon ada pemberitahuan setelah mentransfer.</p>
<p>UNTUK WILAYAH BOGOR BEBAS ONGKOS KIRIM<br />
UNTUK LUAR BOGOR KENA TAMBAHAN ONGKOS KIRIM DENGAN KETENTUAN:<br />
Untuk Jadetabek Rp. 5.000,-<br />
Untuk luar jabodetabek (pulau jawa): Rp. 10.000,-<br />
Untuk luar jawa, ditanggung sepenuhnya oleh peserta pelatihan</p>
<p>Info lebih lanjut:<br />
<a href="http://pustakalaka.wordpress.com/" rel="nofollow" target="_blank">http://pustakalaka.wordpress.com/</a> atau hub: Abdul Jabbar: 0856 9510 4219</p>
<p>“Pelajarilah BAHASA ARAB, karena BAHASA ARAB merupakan bagian dari agama kalian.”<br />
(Umar bin Khoththob rodhiyallohu ‘anhu)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mediakeluargasakinah.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mediakeluargasakinah.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mediakeluargasakinah.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mediakeluargasakinah.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mediakeluargasakinah.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mediakeluargasakinah.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mediakeluargasakinah.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mediakeluargasakinah.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mediakeluargasakinah.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mediakeluargasakinah.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mediakeluargasakinah.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mediakeluargasakinah.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mediakeluargasakinah.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mediakeluargasakinah.wordpress.com/70/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mediakeluargasakinah.wordpress.com&amp;blog=12086050&amp;post=70&amp;subd=mediakeluargasakinah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/2011/06/28/pelatihan-bahasa-arab-jarak-jauh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a82e6eceaacc823c3430358364b3d99d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mediakeluargasakinah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bacalah Al-Quran!</title>
		<link>http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/2011/05/31/bacalah-al-quran/</link>
		<comments>http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/2011/05/31/bacalah-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 May 2011 14:37:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mediakeluargasakinah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[Tersenyumlah! Hendaknya tersenyumlah orang yang rajin membaca Al-Quran. Meskipun terbata-bata membacanya dan lisannya berat untuk mengucapkannya, ia tetap mendapatkan kebaikan, apalagi jika fasih membacanya tentunya. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Orang yang mahir membaca Al-Quran kedudukannya di akhirat bersama malaikat yang mulia lagi baik, sedangkan yang membacanya dengan terbata-bata dan terasa berat baginya untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mediakeluargasakinah.wordpress.com&amp;blog=12086050&amp;post=68&amp;subd=mediakeluargasakinah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tersenyumlah! Hendaknya tersenyumlah orang yang rajin membaca Al-Quran. Meskipun terbata-bata membacanya dan lisannya berat untuk mengucapkannya, ia tetap mendapatkan kebaikan, apalagi jika fasih membacanya tentunya.</p>
<p>Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Orang yang mahir membaca Al-Quran kedudukannya di akhirat bersama malaikat yang mulia lagi baik, sedangkan yang membacanya dengan terbata-bata dan terasa berat baginya untuk mengucapkannya, ia mendapatkan dua pahala. “ (HR. Bukhari: 4937 Muslim:798 )</p>
<p>Tertawalah! Hendaknya tertawalah orang yang rajin membaca Al-Quran. Di tengah rutinitas sehari-harinya yang padat dalam mencari dunia, ia menyempatkan diri untuk membaca Al-Quran, meskipun hanya beberapa ayat.</p>
<p>Ibnu Masud رضي الله عنه berkata, “Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, ‘Siapa yang membaca satu huruf dalam Kitabullah, maka baginya satu kebaikan. Dan satu kebaikan senilai dengan sepuluh kebaikan. ‘ Saya(Ibnu Mas’ud) tidak mengatakan “Alif Laam Miim satu huruf, akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf. “(HR.Tirmidzi: 2910)</p>
<p>Bila membaca Qul, berarti telah terbaca 2 huruf. 2 huruf ini dikalikan sepuluh, berarti 20 kebaikan berhasil diperoleh. Bila melanjutkan huwallahu ahad, berarti telah terbaca 9 huruf. 9 huruf ditambah 2 huruf sebelumnya menjadi 11 huruf. 11 huruf ini dikalikan sepuluh, berarti 110 kebaikan berhasil diperoleh. Makin banyak membaca Al-Quran, makin banyak huruf yang dibaca, maka makin banyak pula pahala yang diraih.</p>
<p>Bergembiralah! Hendaknya bergembiralah orang yang membaca Al-Quran. Karena: “Permisalan seorang mukmin yang membaca Al-Quran seperti buah atrujah, aromanya wangi, dan rasanya enak. Permisalan seorang mukmin yang tidak membaca Al-Quran seperti kurma, tidak ada aromanya, tapi rasanya manis. Permisalan seorang munafik yang membaca Al-Quran, seperti buah raihanah, aromanya wangi, tapi rasanya pahit. Permisalan seorang munafik yang tidak membaca Al-Quran, seperti buah hanzhalah, tidak beraroma dan rasanya pahit. “ (HR. Bukhari: 5427 dan Muslim: 797)</p>
<p>Beruntunglah! Sungguh beruntunglah orang yang membaca Al-Quran, mempelajarinya, mengamalkannya dan menyampaikannya pada orang lain. Di saat orang-orang tersendat masuk surga karena kurangnya amalan kebaikan mereka, orang yang konsisten terhadap Al-Quran malah dimudahkan untuk masuk surga, karena mendapatkan syafaat dari apa yang dibacanya di dunia.</p>
<p>Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Bacalah Al-Quran, karena ia akan datang di hari kiamat sebagai pemberi syafaat (pembelaan) bagi ahlinya. “(HR.Muslim:804)</p>
<p>“Sebaik-baik dari kalian adalah yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya. “ (HR. Bukhari: 5027)</p>
<p>Jakarta, 13 Rabi’ulawwal 1432/16 Februari 2011</p>
<p>Sumber: http://anungumar.wordpress.com/2011/02/16/bacalah-al-quran/</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mediakeluargasakinah.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mediakeluargasakinah.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mediakeluargasakinah.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mediakeluargasakinah.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mediakeluargasakinah.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mediakeluargasakinah.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mediakeluargasakinah.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mediakeluargasakinah.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mediakeluargasakinah.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mediakeluargasakinah.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mediakeluargasakinah.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mediakeluargasakinah.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mediakeluargasakinah.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mediakeluargasakinah.wordpress.com/68/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mediakeluargasakinah.wordpress.com&amp;blog=12086050&amp;post=68&amp;subd=mediakeluargasakinah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/2011/05/31/bacalah-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a82e6eceaacc823c3430358364b3d99d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mediakeluargasakinah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>STRATEGI SUKSES BELAJAR BAHASA ARAB TANPA GURU (bag-2)</title>
		<link>http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/2011/05/31/strategi-sukses-belajar-bahasa-arab-tanpa-guru-bag-2/</link>
		<comments>http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/2011/05/31/strategi-sukses-belajar-bahasa-arab-tanpa-guru-bag-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 May 2011 06:13:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mediakeluargasakinah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[BEKAL SEBELUM BELAJAR &#160; Sebelum mulai belajar bahasa Arab, ada beberapa bekal yang sebaiknya kita miliki agar kita bisa belajar dengan lancar dan meraih hasil yang maksimal. Disamping berbekal semangat yang tinggi, sebaiknya kita juga memiliki bekal: &#160; Kemampuan membaca al-Qur’an dengan benar sesuai dengan hukum-hukum tajwid agar kita tidak salah dalam membaca dan mengucapkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mediakeluargasakinah.wordpress.com&amp;blog=12086050&amp;post=65&amp;subd=mediakeluargasakinah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">BEKAL SEBELUM BELAJAR</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebelum mulai belajar bahasa Arab, ada beberapa bekal yang sebaiknya kita miliki agar kita bisa belajar dengan lancar dan meraih hasil yang maksimal. Disamping berbekal semangat yang tinggi, sebaiknya kita juga<span id="more-65"></span> memiliki bekal:</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Kemampuan membaca al-Qur’an dengan benar sesuai dengan hukum-hukum tajwid agar kita tidak salah dalam membaca dan mengucapkan sebuah huruf. Sebab, dalam bahasa Arab, kalau kita salah dalam mengucapkan satu huruf saja, terkadang bisa mengubah arti yang sangat jauh.</li>
</ol>
<p>Misalnya kata “khoirun“ yang artinya “paling bagus” kalau dibaca  “hairun“ artinya menjadi “orang yang bingung”. Atau “Ar-Rohim“ yang artinya “Maha Penyayang” jika dibaca “Ar-Rokhim“ artinya menjadi “suara merdu”. Atau, “Itsmun“ yang artinya “dosa” jika dibaca “Ismun“  artinya menjadi “nama”.</p>
<p>Oleh karena itu sebelum belajar bahasa Arab, sebaiknya kita belajar terlebih dahulu cara membaca al-Qur’an, terutama tentang <em>makhorijul huruf</em> (tempat-tempat keluarnya huruf) sehingga kita bisa membedakan cara mengucapkan huruf “ﺥ &#8211; ﺡ &#8211; ﻫ“ atau “ﺃ &#8211; ﻉ“ atau “ﺝ &#8211; ﺫ &#8211; ﺯ“, dll.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li> Memiliki Kamus</li>
</ol>
<p>Kamus sangat besar peranannya dalam membantu kelancaran belajar kita. Hampir bisa dipastikan bahwa seseorang tidak akan mungkin bisa belajar bahasa asing apapun dengan baik tanpa bantuan kamus. Oleh karena itu, sebelum belajar, sebaiknya kita memiliki –minimal- sebuah kamus.</p>
<p>Untuk kalangan pemula bisa menggunakan kamus Mahmud Yunus. Meskipun ukurannya tidak terlalu besar, tapi kamus ini sudah mencukupi sebagai bekal untuk belajar bahasa Arab bagi pemula. Namun bagi anda yang ingin memiliki kamus yang lebih lengkap lagi, Anda bisa membeli kamus Al-Munawwir, baik yang edisi Indonesia-Arab atau Arab-Indonesia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Memiliki kitab nahwu dan shorof.</li>
</ol>
<p>Tentu saja kita harus punya kitab nahwu-shorof ketika hendak belajar kaidah bahasa Arab. Apalagi bagi kita yang ingin belajar bahasa Arab sendiri. Kalau tidak punya, apa yang akan dipelajari, ya kan? Tapi yang perlu diingat, pilihlah kitab nahwu dan shorof yang memang cocok untuk digunakan sebagai panduan, terutama untuk kalangan pemula. Sebab terkadang, kitab yang tidak cocok berpengaruh besar juga dalam kelancaran belajar seseorang.</p>
<p>Kitab apa saja yang kira-kira cocok untuk digunakan sebagai panduan bagi pemula? <em>Insya Alloh</em> akan disampaikan nanti pada bab-bab berikutnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ol>
<li>Punya waktu khusus.</li>
</ol>
<p>Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam belajar bahasa Arab, kita harus serius. Untuk itu kita harus menyediakan waktu khusus untuk belajar bahasa Arab. Pilih waktu yang benar-benar membuat kita nyaman dalam belajar dan tidak mendapat gangguan apapun. Jika kita sudah menentukan waktu khusus itu, kita harus konsisten. Jangan kita gunakan untuk kegiatan yang lain selain untuk belajar bahasa Arab. Misalnya kita bisa gunakan satu jam setelah subuh (jam 5-6), atau satu jam setelah sholat Isya untuk belajar bahasa Arab.</p>
<p>Ingat, yang penting dalam belajar itu bukan lama waktunya, tapi kontinyuitasnya. Lebih baik sehari kita belajar cuma satu jam tapi kontinyu, daripada sehari kita belajar 5 jam tapi setelah itu kita tidak pernah belajar lagi. Walaupun sehari kita cuma belajar satu jam, asalkan kontinyu, <em>insya Alloh</em> suatu saat kita akan merasakan kemajuan yang luar biasa yang kita sendiri tidak pernah menyangka sebelumnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mediakeluargasakinah.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mediakeluargasakinah.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mediakeluargasakinah.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mediakeluargasakinah.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mediakeluargasakinah.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mediakeluargasakinah.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mediakeluargasakinah.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mediakeluargasakinah.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mediakeluargasakinah.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mediakeluargasakinah.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mediakeluargasakinah.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mediakeluargasakinah.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mediakeluargasakinah.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mediakeluargasakinah.wordpress.com/65/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mediakeluargasakinah.wordpress.com&amp;blog=12086050&amp;post=65&amp;subd=mediakeluargasakinah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/2011/05/31/strategi-sukses-belajar-bahasa-arab-tanpa-guru-bag-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a82e6eceaacc823c3430358364b3d99d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mediakeluargasakinah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>STRATEGI SUKSES BELAJAR BAHASA ARAB TANPA GURU (bag-1)</title>
		<link>http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/2011/05/31/strategi-sukses-belajar-bahasa-arab-tanpa-guru-bag-1/</link>
		<comments>http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/2011/05/31/strategi-sukses-belajar-bahasa-arab-tanpa-guru-bag-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 May 2011 05:58:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mediakeluargasakinah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[CARA TERBAIK &#160; Untuk menguasai bahasa Arab, kita bisa menempuh dua jalan: Belajar langsung lewat bimbingan seorang guru secara intensif. Belajar sendiri dari kitab-kitab kaidah bahasa Arab. &#160; Dari kedua cara ini, tentu saja cara pertama yang paling efektif. Lewat bimbingan guru langsung secara intensif, kita akan lebih cepat memahami pelajaran. Jika kita menemui kesulitan, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mediakeluargasakinah.wordpress.com&amp;blog=12086050&amp;post=63&amp;subd=mediakeluargasakinah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center">CARA TERBAIK</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Untuk menguasai bahasa Arab, kita bisa menempuh dua jalan:</p>
<ol>
<li>Belajar langsung lewat bimbingan seorang guru secara intensif.</li>
<li>Belajar sendiri dari kitab-kitab kaidah bahasa Arab.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dari kedua cara ini, tentu saja<span id="more-63"></span> cara pertama yang paling efektif. Lewat bimbingan guru langsung secara intensif, kita akan lebih cepat memahami pelajaran. Jika kita menemui kesulitan, kita bisa langsung bertanya dan mendapat penjelasan. Hal ini tentu saja lebih menghemat waktu. Berbeda halnya kalau kita cuma belajar dari buku-buku. Kita tentu butuh waktu cukup lama untuk membaca dan memahami. Kemudian, dengan cara kedua ini, resiko jatuh kepada kesalahan lebih besar. Bisa jadi kita salah dalam memahami sesuatu yang kita baca, namun kita tidak menyadarinya.  Jadi jelas, belajar lewat bimbingan guru langsung secara intensif jauh lebih efektif. Dan akan lebih sangat efektif lagi kalau kita bisa menggabungkan kedua cara ini.</p>
<p>Namun, bagi Anda yang ingin belajar bahasa Arab lewat bimbingan guru langsung (misalnya dengan mengikuti kursus-kursus, nyantri, dll.), kami menyarankan:</p>
<ol>
<li>Cari guru yang memang benar-benar faham dengan ilmu yang ingin disampaikan. Jangan belajar dari guru yang dia sendiri masih belum mengerti dengan kaidah bahasa Arab.</li>
<li>Cari guru yang bagus cara mengajarnya. Sebab terkadang ada guru yang ilmunya luar biasa -karena dia lulusan timur tengah misalnya-, namun ternyata cara mengajarnya biasa saja. Murid-muridnya malah banyak yang masih bingung kalau dia mengajar. Namun terkadang juga, ada guru yang ilmunya biasa-biasa saja, belum terlalu tinggi (misalnya dia cuma lulusan lembaga kursus biasa). Namun kalau dia menjelaskan, murid-muridnya bisa langsung mengerti. Jadi, carilah guru yang bisa menjelaskan pelajaran dengan sejelas-jelasnya. Salah satu caranya ialah dengan melihat hasil dari orang-orang yang pernah diajar olehnya. Kalau ternyata murid-muridnya banyak yang berhasil, berarti hampir bisa dipastikan guru itu bagus cara mengajarnya, dan bisa untuk dijadikan sebagai pembimbing dalam belajar bahasa Arab.</li>
<li>Kalau bisa, cari guru yang bisa memberi motivasi dan semangat. Jadi selain mengajar, dia juga bisa memberi motivasi kepada murid-muridnya untuk tetap semangat dalam belajar. Sebab, yang namanya orang belajar, tentu ada saja masa-masa jenuh. Nah, kalau di saat jenuh kemudian ada yang bisa memberikan suntikan semangat lagi, hal ini tentu akan sangat bagus.</li>
<li>Cari guru yang lurus aqidah dan pemahaman Islamnya. Sebab terkadang ada juga orang yang bahasa Arabnya bagus, tapi pemahaman agamanya menyimpang dari jalan yang lurus. Misalnya, ada orang yang mahir berbahasa Arab, tapi dia ternyata “tidak mengimani azab kubur”. Nah, kalau kita belajar dengan orang seperti ini, ditakutkan nantinya kita kena pengaruh buruknya juga. Bisa jadi dia akan menyelipkan akidah menyimpangnya di sela-sela belajar bahasa Arab.</li>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lalu, bagaimana kalau kita tidak bisa belajar langsung lewat bimbingan guru?</p>
<p>Bagi Anda yang tidak bisa belajar langsung lewat bimbingan guru, Anda tidak usah sedih. Sebagaimana telah di sampaikan di atas, Anda bisa menggunakan cara kedua yaitu belajar sendiri dengan membaca dan mempelajari buku-buku kaidah bahasa Arab. Anda bisa mengkaji sendiri buku-buku kaidah bahasa Arab di rumah Anda masing-masing.</p>
<p>Namun, agar Anda tidak jatuh dalam kesalahpahaman dan agar Anda bisa mendapatkan hasil yang memuaskan, Anda harus menggunakan metode yang tepat ketika belajar. Jangan asal membaca.</p>
<p>Dalam buku ini, Anda akan disuguhkan beberapa metode yang bisa Anda coba untuk mendapatkan hasil yang maksimal dalam belajar bahasa Arab tanpa guru. Anda bisa mempraktikkannya di rumah. Semoga metode yang disampaikan dalam buku ini bermanfaat untuk Anda semua.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mediakeluargasakinah.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mediakeluargasakinah.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mediakeluargasakinah.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mediakeluargasakinah.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mediakeluargasakinah.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mediakeluargasakinah.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mediakeluargasakinah.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mediakeluargasakinah.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mediakeluargasakinah.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mediakeluargasakinah.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mediakeluargasakinah.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mediakeluargasakinah.wordpress.com/63/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mediakeluargasakinah.wordpress.com/63/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mediakeluargasakinah.wordpress.com/63/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mediakeluargasakinah.wordpress.com&amp;blog=12086050&amp;post=63&amp;subd=mediakeluargasakinah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/2011/05/31/strategi-sukses-belajar-bahasa-arab-tanpa-guru-bag-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a82e6eceaacc823c3430358364b3d99d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mediakeluargasakinah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Suka Duka Belajar Bahasa Arab Tanpa Guru (6-selesai)</title>
		<link>http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/2011/05/31/kisah-suka-duka-belajar-bahasa-arab-tanpa-guru-6-selesai/</link>
		<comments>http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/2011/05/31/kisah-suka-duka-belajar-bahasa-arab-tanpa-guru-6-selesai/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 May 2011 04:51:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mediakeluargasakinah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[Memperdalam Ilmu Nahwu Selama belajar nahwu lewat bimbingan seorang guru, aku tidak pernah menyelesaikan satu kitab hingga akhir. Selalu saja berhenti di tengah jalan. Pernah aku belajar kitab Al-Muyassar fi ‘Ilmin Nahwi. Namun belum sampai setengah jalan sudah berhenti. Pernah juga aku belajar kitab Silsilah yang biasa digunakan oleh mahasiswa LIPIA tingkat i’dad lughowi. Namun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mediakeluargasakinah.wordpress.com&amp;blog=12086050&amp;post=59&amp;subd=mediakeluargasakinah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Memperdalam Ilmu Nahwu</p>
<p>Selama belajar nahwu lewat bimbingan seorang guru, aku tidak pernah menyelesaikan satu kitab hingga akhir. Selalu saja berhenti di tengah jalan.</p>
<p>Pernah aku belajar kitab<span id="more-59"></span> <em>Al-Muyassar fi ‘Ilmin Nahwi</em>. Namun belum sampai setengah jalan sudah berhenti. Pernah juga aku belajar kitab <em>Silsilah</em> yang biasa digunakan oleh mahasiswa LIPIA tingkat <em>i’dad lughowi</em>. Namun baru seperempat jalan sudah berhenti. Pernah juga menggunakan kitab-kitab yang lain. Namun tidak pernah ada satu pun yang selesai. Akhirnya semua kitab aku selesaikan sendiri dengan mempelajarinya sendiri tanpa bimbingan guru.</p>
<p>Kira-kira ada lima buku kaidah nahwu yang sudah aku baca sendiri dari awal sampai akhir. Namun aku tetap masih belum menangkap inti dari pelajaran ilmu nahwu. Sehingga terkadang aku masih sering kesulitan menerapkan kaidah yang sudah aku pelajari ketika sedang membaca kitab. Karena aku masih merasa lemah dalam kaidah nahwu, maka aku pun kemudian mencoba untuk mempelajari buku kaidah nahwu untuk tingkatan yang lebih tinggi.</p>
<p>Saat bermain ke sebuah toko buku, aku sering melihat ke rak buku yang memajang buku-buku kaidah bahasa Arab. Hal ini biasa aku lakukan. Pokoknya setiap berkunjung ke toko buku selalu aku luangkan waktu untuk melihat-lihat buku pelajaran bahasa Arab yang dijual di sana. Suatu ketika mataku tertuju kepada sebuah buku besar yang terdiri dari dua jilid. Jilid pertama setebal 554 halaman dan jilid kedua setebal 546 halaman. Buku itu adalah terjemahan dari kitab Alfiyyah Syarah Ibnu Aqil.</p>
<p>Aku baca-baca isi buku ini secara sekilas. Ternyata buku ini berisi kaidah ilmu nahwu untuk tingkat lanjutan. Aku pun kemudian tertarik untuk membelinya.</p>
<p>Kitab terjemahan Alfiyyah ini kemudian aku baca sendiri di rumah. Aku pelajari lembar demi lembar buku ini. Aku baru menyadari bahwa ternyata masih banyak sekali kaidah nahwu  yang belum aku ketahui selama ini. Aku pun kemudian jadi semakin tertarik mempelajarinya. Namun semakin aku pelajari, aku justru semakin bingung. Sebab banyak sekali istilah-istilah  yang belum aku mengerti dan sulit aku mengerti sendiri. Karena aku merasa kesulitan untuk mempelajari buku ini sendiri, aku pun kemudian berhenti mempelajarinya. Ternyata di kemudian hari, aku baru tahu kalau ternyata kitab Alfiyyah ini adalah kitab nahwu untuk tingkat tinggi. Tidak sembarangan orang bisa mempelajarinya. Hanya orang-orang yang punya dasar ilmu nahwu yang kuat yang akan sanggup untuk memahami kitab ini. Tapi selama membaca kitab ini, aku mendapatkan faidah yang cukup banyak yang semakin memudahkanku membaca kitab gundul. Aku pun jadi semakin tahu kalau ternyata ilmu nahwu itu luas sekali tidak terbatas pada apa yang ada di kitab-kitab nahwu tingkatan pemula.</p>
<p> Dauroh Bahasa Arab I</p>
<p>Setelah sekian lama belajar bahasa Arab sendiri, <em>alhamdulillah</em> aku sudah memperoleh hasil yang cukup menggembirakan. Meskipun tanpa bimbingan guru langsung, tapi aku sudah bisa membaca kitab gundul. Aku juga sudah bisa meng-i’rob kata untuk tingkat dasar.</p>
<p>Namun, aku merasa ilmu nahwuku masih jauh dari tingkatan mahir. Masih ada beberapa pembahasan yang belum aku pahami. Akhirnya, aku pun memutuskan untuk ikut dauroh bahasa Arab selama sebulan di sebuah pondok pesantren di Jawa Timur.</p>
<p>Peserta dauroh dibagi menjadi dua tingkatan. Tingkatan pemula (I’dad) dan tingkatan lanjutan (Takmili). Untuk bisa masuk ke tingkat lanjutan harus ikut ujian seleksi terlebih dahulu.</p>
<p>Selama hampir sebulan penuh aku mengikuti pelatihan bahasa Arab. Aku masuk kelas lanjutan. Kitab yang digunakan adalah kitab <em>Mulakhosh</em> karya Fu’ad Ni’mah. Kitab ini tingkatannya di atas <em>Al-Muyassar</em> jilid 1, tapi masih di bawah <em>Alfiyyah</em>. Mungkin bisa dibilang kitab ini adalah kitab panduan untuk tingkat menengah. Bagi orang yang sudah menguasai dasar-dasar ilmu nahwu-shorof dan ingin melanjutkan ke tingkatan tinggi, aku sangat sarankan untuk mempelajari kitab <em>Mulakhosh</em> terlebih dahulu. Sebab akan sangat memudahkan untuk bisa memahami kitab-kitab tingkatan berikutnya yang lebih tinggi.</p>
<p><em>Alhamdulillah</em> selama mengikuti dauroh aku tidak mengalami kesulitan dalam menerima materi yang disampaikan oleh setiap ustadz di kelas. Sebab aku sudah memiliki dasar yang lumayan. Ketika itu aku tinggal melakukan penyempurnaan-penyempurnaan saja.</p>
<p>Selama dauroh, dalam seminggu diadakan dua kali ujian. Soal ujian diambil dari materi yang sudah diajarkan oleh para ustadz di kelas. <em>Alhamdulillah</em> aku bisa mengerjakannya dengan mudah. Sebab memang soalnya menurutku sangat mudah. Setiap peserta dauroh yang memahami pelajaran di kelas dengan baik, dia tentu akan bisa mengerjakan soal ujian dengan mudah.</p>
<p>Aku sering mendapatkan nilai seratus setiap kali ujian. Beberapa saja yang di bawah seratus. Tapi tidak jauh-jauh dari angka 98 dan 99.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">***</p>
<p align="center">
<p>            Ada dua peristiwa berkesan yang aku alami ketika mengikuti dauroh waktu itu. Hingga kini aku tidak bisa melupakannya. Peristiwa pertama ialah ketika beberapa orang menganggapku sebagai anak pesantrenan. Ada seorang panitia yang biasa membuat soal yang bertanya kepadaku langsung. “Antum pernah mondok?”, demikian kira-kira tanyanya padaku. Dia bertanya demikian karena melihat tulisanku yang lain daripada yang lain dan nilai ujianku yang bagus-bagus. Aku pun menjawab bahwa aku tidak pernah mondok di pesantren mana pun. Semua ilmu yang aku dapat adalah hasil belajar sendiri. Aku belajar nahwu sendiri, belajar shorof sendiri, belajar i’rob sendiri, dan belajar menulis sendiri.</p>
<p>Peristiwa ini cukup berkesan bagiku. Kenapa? Karena dari sini aku bisa mengambil pelajaran bahwa kalau kita mau berusaha sungguh-sungguh untuk belajar bahasa Arab (dan ilmu-ilmu yang lain tentunya), kita tentu bisa mendapatkan hasil yang tidak kalah dengan orang-orang yang belajar di pondok. Teman sekelasku waktu itu banyak yang berasal dari pondok pesantren. Sebagiannya bahkan ada yang sudah lebih dari setahun belajar di sebuah pondok pesantren. Tapi ternyata ilmu bahasa Arabnya biasa-biasa saja. Mereka masih belum lancar membaca kitab gundul. Mereka masih kebingungan dalam memahami kaidah. Berarti semua itu kembali ke individu masing-masing. Kalau mereka mau sungguh-sungguh, maka <em>Insya Alloh</em> mereka akan berhasil. Entah anak pondokan atau bukan. Intinya adalah kesungguhan dan semangat pantang menyerah. <em>Man jadda wajada!</em> Inilah peristiwa yang pertama.</p>
<p>Adapun peristiwa yang kedua adalah ketika aku tidak menjadi juara pada acara dauroh waktu itu. Padahal waktu itu nilaiku bagus-bagus. Bahkan beberapa orang yang mengenalku menyangka akulah yang akan menjadi juara pada acara dauroh waktu itu. Mereka berkata kepadaku setelah acara penutupan dauroh, “Kirain antum yang jadi juara?”.</p>
<p>Ya memang. Aku sendiri menyangka bahwa akulah yang akan menjadi juara. Sebab nilaiku bagus-bagus. Dan aku pun memang sedikit berharap bisa menjadi juara pada dauroh waktu itu. Aku ingin membuktikan bahwa orang yang tidak mondok pun bisa lebih baik dari orang yang mondok.</p>
<p>Setahuku, hanya ada 4 orang yang nilainya bagus-bagus di kelas. Namun dua orang dari mereka nilainya masih di bawah nilai-nilaiku. Hanya ada satu orang yang nilainya bersaing denganku. Dia adalah seorang santri yang belajar langsung secara intensif kepada seorang ustadz (<em>mulazamah</em>). Dia biasa mengkaji kitab-kitab ulama dengan seorang ustadz. Jadi dia sudah pandai membaca kitab.</p>
<p>Kalau dari sisi keilmuan, dia jelas masih di atasku. Tapi kalau dari nilai ujian, karena soal ujiannya mudah, maka nilai kami bisa dibilang sama. Hanya saja waktu itu, aku punya prediksi, kalau aku tidak juara satu, ya juara dua. Tapi, kenapa aku bisa tidak masuk ke dalam tiga besar? Begini ceritanya….</p>
<p>Minggu-minggu awal dauroh, seluruh peserta begitu semangat belajar bahasa Arab. Namun setelah minggu ketiga banyak yang mengalami kejenuhan. Sebagiannya bahkan pulang ke rumah dan tidak menyelesaikan dauroh. Bahkan ada kelas yang hanya menyisakan beberapa peserta saja saat dauroh berakhir. Diantara peserta dauroh yang mengalami kejenuhan adalah diriku.</p>
<p>Saat pertama kali belajar kitab <em>Mulakhos</em> aku sangat bersemangat. Bahkan aku juga mencari materi tambahan dengan membaca kitab-kitab lain yang aku pinjam dari salah seorang santri. Tapi, menjelang akhir dauroh kejenuhan melandaku. Aku merasa sudah hampir semua kaidah dalam kitab <em>Mulakhos</em> aku kuasai. Dan itu menurutku sudah cukup untuk membantuku memperlancar membaca kitab. Hanya beberapa bab lagi saja yang belum dibahas. Tapi aku yakin bab-bab itu bisa aku baca dan pelajari sendiri. Aku pun kemudian jadi malas-malasan belajar. Beberapa kali aku bolos tidak masuk kelas. Terutama siang hari menjelang Zuhur. Aku lebih memilih tidur di asrama daripada masuk kelas.</p>
<p>Ternyata, saat aku tidak masuk kelas, ada materi penting yang aku belum tahu sebelumnya yang dibahas oleh ustadz di kelas. Kemudian materi itu keluar saat ujian. Aku pun tidak bisa menjawabnya. Akhirnya nilaiku pun turun drastis. Dan inilah yang menyebabkanku tidak bisa masuk tiga besar di kelas.</p>
<p>Dibanding peristiwa yang tadi, peristiwa inilah yang paling berkesan bagiku. Peristiwa ini mengajarkanku akan bahayanya penyakit malas. Kemalasan bisa menyebabkan orang terhalang dari kesuksesan. Aku jadi teringat dengan sebuah contoh kalimat dalam kitab <em>Al-Muyassar</em>. Kalimatnya begini “Lan yanjahal kaslan”, artinya “Orang yang malas tidak akan pernah sukses”. Memang benar. Aku sendiri pernah merasakan akibatnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Belajar Menerjemah</p>
<p>Diantara nasihat yang sering disampaikan oleh para pengajar bahasa Arab agar bisa membaca kitab gundul ialah dengan memperbanyak mufrodat. Menurutku memang inilah yang paling banyak berperan dalam kesuksesan seseorang belajar bahasa arab. Aku jadi semakin lancar membaca kitab setelah memiliki banyak mufrodat.</p>
<p>Ada beberapa cara yang aku lakukan untuk memperbanyak mufrodat sebagaimana yang telah aku ceritakan di awal. Dari beberapa cara yang pernah aku lakukan, yang paling berpengaruh besar dalam meningkatkan perbendaharaan mufrodatku ialah dengan “menerjemahkan kitab”.</p>
<p>Sebenarnya aku sudah mulai latihan menerjemah sejak awal-awal aku semangat belajar bahasa Arab. Teutama ketika aku telah menyelesaikan pelajaran shorof dalam <em>Kitabut Tashrif</em>. Namun aku semakin intensif menerjemah ketika aku pulang dari dauroh bahasa Arab di Jawa Timur.</p>
<p>Sepulang dari dauroh –<em>alhamdulillah- </em> kemampuan bahasa Arabku semakin meningkat. Aku semakin lancar membaca kitab gundul. Aku pun kemudian tertarik untuk mencoba menerjemahkan kitab-kitab para ulama.</p>
<p>Sebagai latihan, aku banyak menerjemahkan kitab-kitab kecil (kutaib) yang ditulis oleh para ulama. Kebanyakan yang aku terjemahkan ialah kitab-kitab ukuran saku yang hanya terdiri dari 16 halaman. Selain kitab, aku juga menerjemahkan bulletin dan artikel berbahasa Arab yang ditulis oleh para ulama. Jika ada kitab, bulletin, dan artikel yang menurutku menarik dan bahasanya mudah, maka aku pun kemudian tertarik untuk menerjemahkannya.</p>
<p>Untuk menguji  kualitas terjemahanku, sebagian naskah terjemahan coba aku kirim ke beberapa penerbit buku untuk diterbitkan. Sebagiannya ada yang diterbitkan dan sebagian lagi ada yang ditolak dengan alasan pihak penerbit masih mempunyai banyak cadangan naskah yang belum diterbitkan. Kalau tidak salah, hingga kini naskah terjemahanku yang sudah diterbitkan oleh beberapa penerbit ada sekitar 10 naskah. Dua diantaranya diterbitkan oleh penebit Islam yang cukup besar di Indonesia.</p>
<p>Karena sering menerjemah, aku jadi semakin banyak memiliki perbendaharaan kata. Kegiatan menerjemah yang aku lakukan pun jadi semakin terasa mudah. Aku jadi semakin jarang membuka-buka kamus. Hanya sekali-kali saja aku membuka kamus untuk mencari arti kata yang aku belum tahu.</p>
<p>Pernah suatu ketika ada seorang kawan yang bekerja di sebuah penerbitan buku memintaku menerjemahkan sebuah kitab karya Syaikh bin Baz <em>rohimahulloh</em>. Kitab itu tidak terlalu tebal, hanya 36 halaman. Namun aku tidak langsung menyanggupi. Aku baca-baca dulu kitab itu. Karena menurutku bahasanya mudah, maka aku pun kemudian menyanggupinya.</p>
<p>Karena bahasanya yang mudah, kitab itu bisa aku terjemahkan dalam waktu yang tidak telalu lama. Aku mulai tejemahkan kitab itu pada pukul 8 pagi, dan selesai sekitar jam 8 malam. Aku terjemahkan kitab itu langsung di depan komputer. Jadi langsung aku ketik. Kitab yang aku terjemahkan aku letakkan di depanku, aku baca, kemudian aku terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia langsung di komputer. Jika ada kata-kata yang sulit, aku buka kamus yang sudah tersedia di sisiku.</p>
<p>Begitu selesai, aku tidak langsung serahkan terjemahanku itu kepada kawanku. Aku edit terlebih dahulu. Aku baca kembali naskah terjemahanku berkali-kali. Kurang lebih belasan kali aku membaca naskahku itu. Aku ingin meminimalisir kesalahan terjemah. Setelah aku yakin terjemahanku itu sudah baik dan mudah untuk dipahami, baru kemudian aku serahkan ke kawanku. Beberapa waktu kemudian, tejemahanku itu pun ditebitkan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mengajar Bahasa Arab</p>
<p>Ilmu itu memang harus dimuroja’ah. Kalau tidak, ilmu yang selama ini sudah kita kuasai lama-kelamaan akan sirna. Aku sendiri pernah, bahkan sering, mengalami hal ini.</p>
<p>Pernah suatu ketika aku tidak bersentuhan lagi dengan bahasa Arab hingga berbulan-bulan lamanya. Aku tidak pernah membaca buku-buku kaidah bahasa Arab. Aku juga tidak lagi membaca kitab-kitab para ulama. Aku telah tersibukkan dengan urusan dunia. Akibatnya, aku lupa dengan kaidah-kaidah bahasa Arab yang sudah aku pelajari selama ini. Hanya beberapa saja yang masih teringat. Memang aku masih bisa membaca kitab. Tapi ketika ditanya tentang kedudukan sebuah kata, banyak yang aku sudah lupa. Inilah akibat dari kurangnya muroja’ah.</p>
<p>Biasanya aku baru tergerak untuk membuka-buka kembali kitab kaidah nahwu-shorof ketika diminta untuk mengajar bahasa Arab. Sebab tidak mungkin aku mengajar bahasa Arab tanpa ilmu yang memadai. Dan aku memang tidak ingin mengecewakan murid-muridku. Oleh karena itu, sebelum mengajar, aku persiapkan dulu baik-baik. Aku baca kembali buku-buku kaidah bahasa yang sudah aku punya. Tidak hanya satu buku, tapi banyak buku. Aku pun selalu berusaha mencari metode yang efektif dalam mengajar. Tujuanku cuma satu. Aku ingin ilmu yang ada padaku bisa diterima dengan baik oleh para murid-muridku.</p>
<p>Berdasarkan pengalamanku, mengajar merupakan sarana paling bagus untuk me-muroja’ah ilmu. Sebab dengan mengajar, otomatis aku akan “dipaksa” untuk kembali membuka-buka buku lagi. Semakin sering aku mengajar, ilmu yang telah aku kuasai semakin melekat kuat dalam diriku.</p>
<p>Selama ini sudah beberapa kali aku diminta mengajar bahasa Arab. Diantaranya aku pernah mengajar di sebuah pondok pesantren yang baru buka. Ceritanya waktu itu ada sebuah pondok pesantren yang baru menerima santri. Sebelum dimulai proses belajar mengajar, ada  beberapa orang yang sudah mendaftar. Padahal pondok baru akan memulai pelajaran beberapa bulan lagi. Karena sebagian mereka belum bisa bahasa Arab, maka sambil menunggu, mereka memintaku untuk mengajari mereka bahasa Arab. Aku pun menyanggupinya. Sambil mengajar, aku melakukan muroja’ah. Aku baca kembali buku kaidah nahwu-shorof yang selama ini sudah tersimpan rapih di dalam kardus.</p>
<p>Setelah beberapa kali mengajar, aku pun kemudian baru bisa memahami inti dari ilmu nahwu itu seperti apa. Selama ini aku belajar nahwu hanya mengikuti apa yang diajarkan dalam buku. Aku hafalkan dan fahami kaidah-kadiah yang diajarkan dalam setiap buku. Namun aku masih belum menemukan pemahaman dasar tentang ilmu nahwu.</p>
<p>Suatu ketika, saat aku diminta mengajar oleh beberapa orang kawan dekatku, aku sempat berfikir keras untuk bisa memberikan penjelasan ilmu nahwu dengan sejelas-jelasnya kepada mereka. Aku kemudian mencoba untuk meneliti beberapa kitab nahwu yang aku punya. Setelah lama mengkaji, akhirnya aku pun menemukannya. Aku baru paham inti dari ilmu nahwu itu sebenarnya seperti apa. Ternyata benarlah yang dikatakan temanku seorang mahasiswa LIPIA. Kata dia, “Nahwu itu cuma gitu-gitu aja….”.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menjadi Editor Bahasa</p>
<p>Kemampuanku berbahasa Arab pernah mengantarkanku bekerja sebagai seorang editor bahasa di sebuah penerbitan buku Islam. Waktu itu pimpinan perusahaan Pustaka UA memintaku untuk menjadi editor bahasa di perusahaannya. Aku pun memenuhi permintaannya.</p>
<p>Awalnya aku mengira tugasku hanyalah memperbaiki bahasa Indonesia dari naskah terjemahan sebelum naik cetak. Ternyata tidak. Aku juga harus memeriksa kualitas terjemahannya juga. Aku harus memeriksa apakah naskah terjemahan itu sudah benar-benar sesuai dengan naskah aslinya yang berbahasa Arab; apakah ada terjemahan yang terlewat; apakah masih ada salah terjemah, dll. Namun aku senang karena pekerjaanku ini membuatku mendapatkan banyak ilmu. Sebab naskah yang aku edit adalah hasil terjemahan kitab-kitab para ulama. Aku pun jadi banyak memperoleh mufrodat baru.</p>
<p>Ada dua sumber naskah yang harus aku periksa sebelum naik cetak. Pertama naskah dari penerjemah langsung (sebelum edit isi). Kedua, naskah yang isinya sudah diedit oleh tenaga ahli, biasanya seorang ustadz yang bergelar Lc..</p>
<p>Dari beberapa naskah yang aku edit, ternyata aku sering sekali menemukan kesalahan. Kalau kesalahan kaidah penulisan bahasa Indonesia mungkin masih bisa diterima. Tapi kesalahan yang sering aku jumpai adalah kesalahan terjemah. Terjadi perbedaan antara maksud yang diinginkan penulis kitab dengan penerjemah.</p>
<p>Kesalahan yang paling banyak aku jumpai berasal dari naskah yang langsung berasal dari penerjemah, sebelum diedit oleh tenaga ahli. Adapun naskah yang berasal dari editor ahli, kesalahannya tidak terlalu banyak. Paling-paling kesalahannya seputar penulisan kaidah bahasa Indonesia saja sehingga kalimatnya masih membingungkan orang yang membacanya. Namun ada juga beberapa naskah yang masih banyak kesalahan meskipun sudah diedit oleh editor ahli. Kenapa hal ini bisa terjadi? Entahlah. Banyak hal yang melatarbelakanginya. Dan aku tidak ingin membahasnya di sini.</p>
<p>Aku jadi teringat dengan kejadian beberapa tahun yang lalu. Pernah suatu ketika seorang kawan yang bekerja di sebuah penerbitan buku memintaku memeriksa buku terbitannya. Buku itu sudah diedit oleh tenaga ahli lulusan timur tengah. Rencananya buku itu akan direvisi dan dicetak ulang. Setelah aku periksa ternyata aku menemukan banyak sekali kesalahan. Bahkan beberapa diantaranya kesalahan terjemah  yang cukup fatal. Aku pun kemudian memberitahu kawanku itu bahwa di buku itu banyak kesalahannya. Terutama pengharokatan haditsnya. Buku itu pun kemudian diedit kembali oleh tenaga ahli lain. Pada cetakan kedua, penerbit meminta maaf atas banyaknya kesalahan yang terjadi pada cetakan pertama.</p>
<p>Pernah juga aku punya pengalaman begini. Suatu ketika aku diminta mengedit sebuah naskah tejemahan dari salah satu kitab karya Ibnu Qoyyim al-Jauziyyah.</p>
<p>Ternyata kitab Ibnul Qoyyim yang aku edit ini sudah pernah diterjemahkan oleh penerbit XXX beberapa tahun yang lalu. Aku pernah melihatnya di sebuah perpustakaan Islam. Aku pun kemudian meminjamnya. Setelah itu aku cocokkan dengan kitab aslinya yang berbahasa Arab sambil aku cocokkan juga dengan naskah yang sedang aku edit. Aku pun kaget. Ternyata di buku terjemahan dari penerbit XXX itu banyak sekali kesalahannya. Banyak kalimat yang diterjemahkan tidak sesuai dengan yang terdapat pada kitab aslinya. Kenapa hal ini bisa terjadi? Entahlah. Barangkali karena buku terjemahan itu tidak melewati proses editing dari tenaga ahli. Jadi dari penerjemah langsung diterbitkan. Maka pantas saja jika masih banyak kesalahan di dalamnya. Sayangnya buku terjemahan ini sudah terlanjur beredar luas di tengah-tengah masyarakat sejak beberapa tahun yang lalu.</p>
<p>Berbicara tentang kesalahan terjemah, pernah juga ada cerita begini. Pernah suatu ketika seorang ustadz diminta untuk membedah sebuah buku yang baru saja diterjemahkan oleh sebuah penerbit. Sebelum membahas buku itu, sang ustadz memeriksa dulu kualitas terjemahan dari kitab yang akan dibedah. Ternyata banyak sekali ditemukan kesalahan. Sehingga kemudian ustadz itu memberikan saran, bahwa untuk menerbitkan sebuah buku terjemahan hendaknya bekerjasama beberapa fihak:</p>
<p>Pertama, orang yang mengerti bahasa Arab untuk menjadi penerjemah.</p>
<p>Kedua, orang yang mengerti isi kitab yang akan diterjemahkan untuk menjadi editor isi.</p>
<p>Ketiga, orang yang mengerti bahasa Indonesia untuk menjadi editor bahasa.</p>
<p>Jika ketiga fihak ini sudah terkumpul, <em>insya Alloh</em> kesalahan terjemah akan bisa diminimalisir.</p>
<p>Oya, aku jadi teringat sesuatu. Suatu ketika penerbit tempat aku bekerja berkeinginan untuk mencetak ulang buku terjemahan dari kumpulan hadits yang pernah diterbitkannya. Sebelum dicetak ulang, naskah terjemahannya kembali diedit. Ternyata, setelah diperiksa secara teliti, ditemukan banyak sekali kesalahan. Ada puluhan kesalahan. Bahkan sepertinya sampai ratusan. Terutama kesalahan ketik. Banyak teks hadits yang tertulis tidak lengkap. Dugaanku, hal ini terjadi karena pihak penerbit terburu-buru dalam menerbitkan buku terjemahan ini. Kalau tidak salah waktu itu, pihak penerbit berkeinginan agar buku ini sudah terbit sebelum digelarnya acara pameran buku di sebuah kota yang waktunya tidak lama lagi. Ditambah lagi, yang mengerjakannya adalah pegawai baru bagian produksi yang belum punya pengalaman sama sekali dalam pekerjaan barunya ini. Sehingga pantas saja timbul banyak kesalahan.</p>
<p>Dari beberapa peristiwa ini, aku pun bisa mengambil beberapa pelajaran penting. Pertama, hendaknya kita berhati-hati dalam membeli buku terjemahan. Belilah buku terjemahan yang sudah melewati proses editing dari tenaga ahli. Kenali pula penerbit yang terkenal selektif dan berhati-hati dalam menerbitkan buku-buku tejemahan.</p>
<p>Kedua, hendaknya kita belajar bahasa Arab agar bisa membaca langsung kitab para ulama. Dengan begitu kita tidak akan terlalu mengandalkan buku-buku terjemahan yang kita tidak tahu apakah buku itu diterjemahkan dengan benar atau tidak. Kalau kita bisa bahasa Arab, kita juga bisa mengecek kualitas buku terjemahan yang kita baca. Seperti yang dahulu sering aku lakukan. Saat aku baca-baca buku terjemahan, aku juga berusaha mengecek kualitas terjemahan dari buku yang aku baca. Caranya yaitu dengan melihat terjemahan hadits yang ada dalam buku itu. Pertama aku lihat teks haditsnya. Aku periksa apakah pemberian harokatnya sudak tepat. Kemudian aku lihat terjemahannya, apakah sudah tepat sesuai teks haditsnya. Dari hasil meneliti, aku sering menemukan kesalahan terjemah dari beberapa buku yang aku baca. Terutama buku-buku yang terbit sebelum tahun 2000-an. Dan aku juga menemukan beberapa penerbit buku yang sering kurang teliti dalam menerbitkan buku-buku terjemahan. Banyak buku-buku terbitannya yang kurang bagus kualitas terjemahannya. Ternyata bukan aku saja yang menilai demikian. Orang-orang yang mengerti bahasa Arab pun memberi penilaian yang sama.</p>
<p> Dauroh Bahasa Arab II</p>
<p>Sebenarnya ingin sekali aku ikut dauroh bahasa Arab di pondok pesanten yang ada di Jawa Timur setiap tahunnya. Disamping aku ingin me-muroja’ah ilmu kaidah bahasa Arab yang sudah aku kuasai, aku juga rindu dengan suasana pondok. Aku merasakan ketenangan di sana. Jauh dari hiruk-pikuk aktivitas keduniaan. Namun sayang, aku belum berkesempatan untuk itu.</p>
<p>Suatu ketika keinginanku untuk ikut dauroh demikian kuat. Aku pun mengajak seorang kawanku untuk ikut ke sana. Dia adalah salah seorang yang pernah aku ajar bahasa Arab. Orangnya semangat. Nilainya paling tinggi di kelas. Aku sangat yakin kalau dia ikut dauroh, kemampuan bahasa Arabnya akan meningkat pesat. Bisa jadi malah akan melebihi kemampuanku. Akhirnya, aku dan kawanku itu berangkat ke sana.</p>
<p>Banyak sekali manfaat yang aku peroleh dari dauroh kali ini. Pertama, aku bisa memuroja’ah kembali ilmu kaidah bahasa Arabku. Kedua, aku mendapatkan beberapa tambahan ilmu yang belum aku ketahui sebelumnya.</p>
<p>Dauroh kali ini masih seperti dulu. Setiap hari belajar, kecuali hari Jum’at libur. Pelajaran dimulai ba’da shubuh dan selesai malam hari sekitar jam 9-an. Kalau dihitung-hitung, kami belajar di kelas setiap harinya sebanyak 8 jam.</p>
<p>Sama seperti dulu, dalam seminggu ada dua kali ujian. Cuma bedanya, soal ujian kali ini lebih sulit dari soal ujian dauroh 6 tahun yang lalu. Pada dauroh yang lalu aku sering mendapat nilai 100. Tapi dauroh kali ini, aku tidak pernah sekalipun mendapat nilai 100. Nilai tertinggi yang aku dapat cuma 50. Lho, kok bisa? Apakah karena soalnya memang terlalu sulit? Atau, karena aku sudah lupa dengan kaidah bahasa Arab yang aku pernah pelajari? Atau….</p>
<p>Bukan, bukan itu masalahnya. Sebab nilai tertinggi cuma sampai 50. Jadi kalau jawaban kita benar semua kita cuma mendapat nilai 50. Oleh karena itulah aku tidak pernah dapat nilai 100 he..he…</p>
<p><em>Alhamdulillah</em> ujian demi ujian bisa aku lewati dengan baik. Dan <em>alhamdulillah</em> aku menjadi juara 1 pada acara dauroh kali ini. Pada acara penutupan, aku berkesempatan memberi sambutan mewakili seluruh peserta dauroh.</p>
<p>Pada dauroh kali ini aku kembali menyaksikan bukti nyata betapa kesungguhan sangat berpengaruh besar dalam kesuksesan seseorang. Aku menyaksikan hal itu dalam diri kawanku. Semangatnya belajar masih menyala-nyala seperti biasanya. Dia tidak pernah bolos belajar. Bahkan ketika sakit cukup parah, dia tetap memaksakan diri masuk kelas. Katanya, dia merasa rugi kalau ketinggalan pelajaran satu kali saja. Karena kesungguhannya itu, dia pun kemudian mendapatkan kemajuan yang luar biasa dalam bahasa Arab. Dia waktu itu berhasil meraih juara 3, mengalahkan peserta lainnya yang kebanyakan berasal dari pondok pesantren. Oya, perlu aku beri tahu juga bahwa kawanku itu sama denganku dalam belajar. Dia bukan orang pondokan juga. Dia adalah adik kelasku sewaktu kuliah di kampus ABC.</p>
<p>Sepulang dauroh, kawanku itu semakin semangat memperdalam bahasa Arab. Dia pun kemudian tertarik untuk mempelajari kaidah bahasa Arab tingkat tinggi. Beberapa kitab kaidah bahasa Arab tingkat tinggi sudah dia beli. Dia juga banyak belajar dari pakar bahasa Arab yang ada di luar negeri. Dia sering belajar lewat internet. Karena kemahirannya dalam bahasa Arab, dia pun kemudian diminta oleh kawan-kawannya untuk mengajar bahasa Arab. Saat kisah ini aku tulis, aku mendengar kabar dia sedang membuat metode baru dalam mengajar bahasa Arab. Semoga Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> memberinya kemudahan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Belajar Muhadatsah</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Untuk bisa dikatakan menguasai bahasa Arab dengan sempurna, kita harus menguasai 4 keterampilan berbahasa, yaitu: membaca, menulis, mendengar, dan berbicara. Untuk 3 keterampilan awal, sepertinya masih bisa dipelajari sendiri. Namun untuk keterampilan berbicara, kita harus mempunyai minimal seorang partner untuk bisa mempelajarinya. Lebih bagus lagi kalau kita punya lingkungan yang mendukung, yaitu yang masyarakatnya biasa berbicara menggunakan bahasa Arab.</p>
<p>Menurutku, yang paling susah dalam bahasa Arab adalah belajar <em>muhadatsah</em> (percakapan). Sampai sekarang aku masih belum bisa lancar bercakap-cakap dalam bahasa Arab. Bahasa Arabku pasif. Namun bukan berarti aku tidak bisa berbicara bahasa Arab sama sekali. Sedikit-sedikit sih aku bisa. Bahkan aku pernah punya pengalaman berbicara langsung dengan orang Arab asli.</p>
<p>Sebagaimana telah aku ceritakan, aku pernah mengikuti dauroh yang diisi oleh para Syaikh dari Saudi. Bahasa yang digunakan dalam dauroh 100% bahasa Arab.  Tidak ada penerjemah. Oleh karena itu, jika peserta dauroh ingin mengerti apa yang disampaikan, mereka harus mengerti bahasa Arab terlebih dahulu. <em>Alhamdulillah</em> aku mengerti sebagian besar yang disampaikan oleh para pengisi materi.</p>
<p>Dalam dauroh itu, selain kajian, ada juga program hafalan al-Qur’an. Peserta dauroh diminta untuk menghafal surat Ar-Rum. Setiap pagi mereka harus menyetorkan hafalan di hadapan Syaikh langsung.</p>
<p>Setiap pagi aku menyetorkan hafalanku kepada seorang Syaikh. Sambil menyetorkan hafalan, aku juga sempat berbincang-bincang dengannya. Dia pernah menanyakan beberapa hal tentang diriku. Aku pun berusaha menjawab pertanyaannya dengan baik. Disamping saat setoran hafalan, aku juga sempat berbicara dengan beliau di beberapa kesempatan.</p>
<p>Waktu itu aku belum pernah ikut dauroh bahasa Arab sama sekali. Bahasa Arabku waktu itu masih sangat-sangat dasar. Sehingga aku tidak terlalu pede untuk berbicara banyak. Sebenarnya aku ingin berbicara panjang lebar dengan para Syaikh yang mengisi dauroh. Tapi aku takut nanti terjadi salah paham. Apalagi waktu itu, sebelum memberi jawaban, aku harus berpikir sejenak. Aku harus berpikir dua kali. Pertama aku harus mencerna ucapan beliau, kedua aku harus menyusun kata-kata sebagai jawaban. Aku belum bisa memberikan jawaban spontan saat bercakap-cakap menggunakan bahasa Arab.</p>
<p>Sebenarnya aku ingin sekali bisa bercakap-cakap dengan bahasa Arab secara lancar. Makanya ketika aku masih tinggal satu kos dengan banyak teman, aku sering mengusulkan untuk dibuat peraturan bercakap-cakap menggunakan bahasa Arab. Namun hal ini tidak pernah terwujud. Sepertinya kawan-kawanku tidak tertarik dengan usulku ini. Sempat aku paksakan juga dengan menempel percakapan ringan di beberapa tempat yang ada di ruangan kos, seperti di teras, ruang tamu, dapur, dll. Tujuanku ialah agar mereka mau membaca dan mempraktikannya. Namun, tetap saja tidak membuat kawan-kawanku yang lain jadi tertarik.</p>
<p>Memang, untuk belajar <em>muhadatsah</em> paling tidak kita butuh seorang teman untuk dijadikan lawan bicara. Tidak mungkin kita bercakap-cakap sendiri, kecuali untuk melancarkan lisan mengucapkan kata-kata. Namun berdasarkan pengalamanku selama ini, sulit sekali mencari teman yang bisa diajak untuk belajar bersama. Bahkan, temanku yang pintar <em>muhadatsah</em>, ketika aku pancing untuk berbicara menggunakan bahasa Arab, dia selalu menjawabnya dengan bahasa Indonesia. Makanya hingga sekarang bahasa Arabku cenderung pasif. Aku paham jika orang berbicara dengan bahasa Arab. Tapi untuk menjawab, butuh waktu beberapa saat untuk menjawab. Tidak bisa spontan.</p>
<p>Dahulu, ketika awal-awal belajar bahasa Arab, aku sempat melakukan beberapa cara untuk bisa ngomong Arab. Diantaranya dengan membeli kaset pelajaran <em>muhadatsah</em>. Namun cara ini kurang membuahkan hasil. Karena memang cara yang paling baik untuk bisa lancar bercakap-cakap menggunakan bahasa Arab &#8211; bahkan bahasa apapun di dunia ini-  ialah dengan langsung praktik berbicara dengan orang lain. Dan sepertinya tidak ada cara yang lebih efektif dari cara ini. Seorang ustadz di sebuah pondok pesantren – beliau sangat bersemangat untuk mengompori santrinya berbicara menggunakan bahasa Arab -  pernah berkata bahwa untuk bisa ngomong Arab ya harus langsung ngomong. Kalau tidak begitu tidak akan pernah bisa.</p>
<p>Saya teringat dengan seorang kenalan yang cukup fasih berbicara bahasa Arab. Padahal dia cuma belajar lewat kursus biasa.  Suatu ketika dia menceritakan resepnya kepadaku. Katanya setiap kali dia dapat pelajaran di tempat kursus, dia langsung praktikkan dengan temannya yang kursus bersama. Dimanapun dia berada, seperti di bus dan di tempat-tempat lainnya, dia biasakan untuk berbicara menggunakan bahasa Arab.</p>
<p>Jadi intinya, kalau kita ingin lancar berbicara menggunakan bahasa Arab, maka kita harus terbiasa bercakap-cakap menggunakan bahasa Arab. Jika tidak, kita tidak akan pernah bisa. Bahkan bagi orang yang dahulunya pernah lancar berbicara, jika lama tidak digunakan, maka lama-kelamaan menjadi tidak lancar lagi. Seorang ustadz pernah berkata hal yang demikian kepadaku. Katanya, “Bahasa Arab saya tumpul karena tidak pernah digunakan.”.</p>
<p> Nikmat Dari Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mengerti bahasa Arab merupakan salah satu nikmat terbesar yang diberikan Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> kepadaku. Dengan kemampuan bahasa Arabku yang masih sangat sederhana ini, ibadah yang aku lakukan sehari-hari jadi terasa lebih berkualitas dibanding dahulu ketika aku belum belajar bahasa Arab. Terutama ibadah sholat, doa, dzikir, dan membaca al-Qur’an.</p>
<p>Kalau dahulu, sebelum belajar bahasa Arab, aku membaca dzikir tak ubahnya seperti orang yang sedang membaca mantra-mantra. Aku tidak mengerti dengan apa yang aku ucapkan. Begitupun dengan doa yang aku haturkan. Aku tidak mengerti dengan apa yang aku minta. Tapi sekarang –<em>alhamdulillah- </em>aku sudah mengerti dengan dzikir dan doa yang aku baca. Sholatku pun sekarang lebih bermakna. Sebab, aku sudah mengerti dengan bacaan sholat yang aku lafalkan. Aku pun sedikit banyak bisa memahami ayat-ayat al-Qur’an yang aku tilawahkan.</p>
<p>Kemudian, di antara nikmat lain yang Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berikan kepadaku ialah dimudahkannya jalanku dalam belajar bahasa Arab. Seringkali aku merasakan kemudahan-kemudahan dalam menjalani kegiatan belajar bahasa Arab. Diantaranya yang paling terasa olehku:</p>
<p>v  Dipertemukannya aku dengan buku “Kitabut Tashrif”.</p>
<p>Harus aku akui bahwa “Kitabut Tashrif” telah memberi pengaruh besar dalam peningkatan kualitas bahasa Arabku. Setelah mempelajari kitab itu, aku seolah mendapatkan “titik terang” dalam belajar bahasa Arab. Aku pun kemudian tedorong untuk lebih giat lagi belajar.  Bisa jadi aku tetap belum bisa lancar membaca kitab hingga sekarang kalau dahulu tidak bertemu dengan <em>Kitabut Tashrif</em>.</p>
<p>Bertemunya aku dengan <em>Kitabut Tashrif</em> seolah-olah aku telah diingatkan bahwa, “Kalau mau bisa baca kitab, pelajari dulu shorof. Kuasai shorof baik-baik, baru kemudian fokus belajar nahwu!”. Demikianlah kira-kira. Semoga Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> memberi balasan yang lebih baik kepada penulis buku itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>v  Diberikannya aku kesempatan untuk mengikuti dauroh bahasa Arab selama hampir sebulan penuh di ponpes yang ada di Jawa Timur. Sebab dauroh ini telah memberi manfaat besar kepadaku dalam peningkatan ilmu nahwuku. Aku jadi semakin paham ilmu nahwu. Sehngga aku pun kemudian bisa membaca kitab nahwu untuk tingkatan yang lebih tinggi lagi seperti kitab Alfiyyah, Qothrun Nada, dll.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Selain dua hal di atas, masih banyak peristiwa lain yang aku alami yang aku merasa itu adalah nikmat dari Alloh yang diberikan kepadaku dalam rangka memudahkan jalanku dalam belajar bahasa Arab sendiri tanpa guru. Misalnya, ketika aku ingin berlatih membaca kitab gundul, sementara aku tidak mempunyai orang yang dapat membimbingku, kemudian aku pun dipertemukan dengan kitab ulama yang mempunyai dua versi cetakan: yang belum berharokat dan yang sudah berharokat lengkap. Ceritanya waktu itu aku telah memiliki kitab ulama yang tanpa harokat. Karena aku belum bisa nahwu-shorof, aku pun tidak bisa membacanya. Suatu ketika aku berkunjung ke sebuah acara pengajian. Di tempat pengajian, ada beberapa orang yang menjual buku-buku bacaan Islam. Disamping menjual buku-buku baru, ada juga yang menjual buku-buku bekas dan buku-buku lama dengan harga murah. Ketika sedang melihat-lihat, aku menemukan sebuah kitab bahasa Arab tulisan seorang ulama. Tapi kitab itu lain daripada yang lain. Kitab itu sudah diberi harokat lengkap. Setelah aku baca isinya, ternyata kitab itu berisi kutipan dari sebagian isi kitab yang aku telah punya. Maka aku pun tertarik  untuk membelinya. Kitab itu ternyata sangat membantuku dalam belajar membaca kitab gundul. Kitab itu seolah telah menjadi guru yang mengoreksi kesalahanku dalam membaca. Demikianlah. <em>Alhamdulillaahirobbil’aalamiin. </em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sebuah Keinginan</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dahulu, waktu awal-awal belajar bahasa Arab, setahuku masih sangat sedikit tempat-tempat yang menyelenggarakan pelajaran bahasa Arab. Umumnya hanya ada di pesantren. Tempat-tempat kursus bahasa Arab hampir bisa dikatakan tidak ada.</p>
<p>Berbeda keadaannya dengan sekarang. Tempat-tempat belajar bahasa Arab yang berada di luar pesantren semakin banyak tersebar. Tempat-tempat kursus bahasa Arab menjamur. Bahkan ada yang gratisan. Ditempatku kuliah dulu, sekarang sering diadakan halaqoh bahasa Arab gratis untuk para mahasiswa dan umum. Aku sendiri pernah jadi salah satu pengajarnya. Jadi sekarang ini, kalau kita ingin belajar bahasa Arab segala sarananya telah dimudahkan.</p>
<p>Kemudian, kalau aku perhatikan sekarang ini, semangat kaum Muslimin untuk belajar bahasa Arab sepertinya semakin meningkat. Banyak yang mulai tertarik belajar bahasa Arab. Tidak hanya kalangan pelajar, tapi juga orang-orang umumnya juga. Sepertinya banyak yang semakin sadar akan arti pentingnya bahasa Arab untuk memahami agama dan untuk meningkatkan kualitas ibadah mereka.</p>
<p>Pernah suatu ketika aku mendengarkan pelajaran bahasa Arab yang diadakan oleh salah satu stasiun radio Islam. Ketika dibuka sesi praktik via telpon, ternyata penelponnya banyak yang berasal dari ibu-ibu rumah tangga. Subhanalloh! Sepertinya mereka memang sangat ingin belajar bahasa Arab, namun mereka tidak ada waktu untuk hadir langsung di tempat-tempat belajar bahasa Arab.</p>
<p>Melihat hal ini, aku jadi berkeinginan untuk membantu orang-orang seperti mereka. Aku ingin menulis sebuah buku kaidah bahasa Arab untuk pemula yang bisa digunakan oleh mereka yang ingin belajar bahasa Arab di rumah masing-masing.             Tapi aku ingin membuat buku yang berbeda dari yang sudah-sudah. Aku ingin orang yang membaca bukuku itu bisa merasakan seolah-olah dia hadir di tempat belajar. Jadi aku ingin memberikan penjelasan yang sejelas-jelasnya dalam bukuku itu.</p>
<p>Selain itu, aku juga berkeinginan untuk membuat komunitas di dunia maya untuk tempat nongkrong mereka-mereka yang baru tertarik belajar bahasa Arab. Aku ingin jadikan komunitas itu sebagai ajang berdiskusi tentang hal-hal yang berkaitan dengan bahasa Arab. Jadi setiap anggota bisa saling berbagi di sana. Mereka bisa bebas bertanya tentang permasalahan yang mereka belum mengerti. Demikianlah keinginanku saat ini. Semoga Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> memudahkan jalan bagiku untuk segera mewujudkannya. <em>Amin.</em></p>
<p>Ya, inilah yang  bisa aku ceritakan tentang perjalananku belajar bahasa Arab. Harus aku akui bahwa cerita ini adalah cerita yang sangat sederhana. Bahkan mungkin bisa dikatakan biasa-biasa saja. Tidak ada yang terlalu istimewa. Lewat cerita yang sederhana ini, selain ingin memberikan sedikit informasi tentang cara belajar bahasa Arab untuk pemula, aku juga ingin memotivasi mereka-mereka yang punya pengalaman lebih menarik dan lebih bagus dariku untuk bisa melakukan hal yang sama denganku. Aku ingin mereka juga mau untuk berbagi cerita tentang pengalaman mereka yang bermanfaat untuk bisa diambil pelajaran oleh orang lain. Sebab aku yakin, setiap orang tentu punya “sesuatu” yang bisa dibagikan kepada orang lain.</p>
<p>Semoga kisahku ini bermanfaat. Aku mohon maaf jika ada kata-kata yang salah. Dan aku juga mohon maaf jika ada penyampaianku yang keliru. Semua yang aku ceritakan bersumber dari ingatan terkuatku saat ini. <em>Wallohu a’lam. </em></p>
<p>Semoga aku dimasukkan Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> ke dalam golongan orang yang disebutkan oleh Rosululloh <em>Shollallohu ‘alaihi wa Sallam</em> dalam sabdanya, “Barangsiapa yang menunjukkan (manusia) kepada kebaikan, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim (1893)). <em>Amiin ya Alloh ya Robbal ‘aalamiin.</em></p>
<p>SELESAI</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mediakeluargasakinah.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mediakeluargasakinah.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mediakeluargasakinah.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mediakeluargasakinah.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mediakeluargasakinah.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mediakeluargasakinah.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mediakeluargasakinah.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mediakeluargasakinah.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mediakeluargasakinah.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mediakeluargasakinah.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mediakeluargasakinah.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mediakeluargasakinah.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mediakeluargasakinah.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mediakeluargasakinah.wordpress.com/59/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mediakeluargasakinah.wordpress.com&amp;blog=12086050&amp;post=59&amp;subd=mediakeluargasakinah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/2011/05/31/kisah-suka-duka-belajar-bahasa-arab-tanpa-guru-6-selesai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a82e6eceaacc823c3430358364b3d99d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mediakeluargasakinah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Suka Duka Belajar Bahasa Arab Tanpa Guru (5)</title>
		<link>http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/2011/05/31/kisah-suka-duka-belajar-bahasa-arab-tanpa-guru-5/</link>
		<comments>http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/2011/05/31/kisah-suka-duka-belajar-bahasa-arab-tanpa-guru-5/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 May 2011 04:48:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mediakeluargasakinah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Wisma AS Hanya setahun aku tinggal di Pondok AQ. Setelah itu aku pindah ke Wisma AS. Di Wisma AS aku tinggal bersama 6 orang temanku yang sama –sama rutin mengaji di pengajian Sang Ustadz setiap minggu. Di wisma AS aku bertemu lagi dengan bahasa Arab. Berbeda dengan di Pondok AQ, di Wisma AS kami belajar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mediakeluargasakinah.wordpress.com&amp;blog=12086050&amp;post=57&amp;subd=mediakeluargasakinah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Wisma AS</p>
<p>Hanya setahun aku tinggal di Pondok AQ. Setelah itu aku pindah ke Wisma AS. Di Wisma AS aku tinggal bersama 6 orang temanku yang sama –sama rutin mengaji di pengajian Sang Ustadz setiap minggu.<span id="more-57"></span></p>
<p>Di wisma AS aku bertemu lagi dengan bahasa Arab. Berbeda dengan di Pondok AQ, di Wisma AS kami belajar bahasa Arab karena kesadaran kami sendiri. Sebab kami sudah menyadari akan arti pentingnya bahasa Arab dalam memahami Islam.</p>
<p>Dari hari senin hingga sabtu, setiap ba’da subuh kami belajar bahasa Arab bersama. Kalau tidak salah hari senin – rabu belajar nahwu, sedangkan hari kamis-sabtu belajar <em>muhadatsah</em> (percakapan). Untuk nahwu kami menggunakan kitab <em>Al-Muyassar</em> karya Ust. Aceng Zakariya, sedangkan untuk <em>muhadatsah</em> biasanya ustadznya yang membuat sendiri berbagai macam contoh-contoh percakapan. Yang mengajar nahwu adalah kakak kelasku satu jurusan. Sedangkan yang mengajar <em>muhadatsah</em> adalah temanku seangkatan alumnus pondok pesantren modern Gontor. Dia mengambil program D3 di kampus ABC.</p>
<p>Setelah beberapa kali mengikuti kajian Sang Ustadz, aku jadi tertarik untuk memperdalam bahasa Arab. Aku jadi ingin sekali bisa membaca kitab gundul seperti ustadz yang mengisi pengajian. Sehingga aku pun kemudian jadi semangat belajar bahasa Arab. Aku tidak pernah absen belajar dari hari senin hingga sabtu. Bahkan biasanya akulah yang paling pertama hadir di tempat belajar. Kenapa? Sebab aku yang jadi penanggung jawab kegiatan belajar bahasa Arab di Wisma AS.</p>
<p>Waktu itu semangatku berkobar-kobar untuk belajar bahasa Arab. Aku pun membeli segala sarana yang dapat membantu kelancaranku belajar bahasa Arab. Aku beli kamus, buku percakapan bahasa Arab, dan buku-buku kaidah nahwu. Saking semangatnya, beberapa kali aku bangun malam (sekitar jam 1 atau jam 2) untuk mengulang pelajaran bahasa Arab yang sudah aku dapat.</p>
<p>Namun sayang. Pelajaran bahasa Arab yang ada di wisma AS cuma berlangsung sekitar 6 bulan. Setelah itu tidak diadakan lagi. Sebab banyak diantara kami yang sibuk dengan urusan kuliah, seperti laporan praktikum, tugas-tugas kampus, dll. Sehingga banyak diantara kami yang tidak bisa ikut belajar. Hanya ada dua orang yang terlihat masih semangat belajar. Salah satunya ialah diriku sendiri. <em>Alhamdulillah.</em></p>
<p>Meskipun sudah tidak diadakan lagi pelajaran bahasa Arab, aku tetap terus belajar bahasa Arab. Aku baca sendiri buku kaidah bahasa Arab yang sudah aku punya. Jika ada pembahasan yang aku tidak mengerti, aku tanyakan kemudian kepada ustadz yang biasa mengajarku bahasa Arab selama ini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Masih Bingung</p>
<p>Setelah sekitar enam bulan belajar bahasa Arab, aku mulai mengalami sedikit kemajuan. Kalau dahulu aku tidak tahu apa-apa tentang bahasa Arab, sekarang aku sudah mengenal apa itu isim, fi’il, dan huruf. Aku pun sudah bisa sedikit-sedikit berbicara dalam bahasa Arab. Misalnya, aku sudah bisa ngomong: Kaifa haluk? Masmuk? Syukron, ‘Afwan, Ila ayna anta? Ana awwalan, Dll. Namun aku belum bisa membaca kitab gundul.</p>
<p>Selama sekitar enam bulan belajar, aku masih belum bisa menangkap inti dari pelajaran bahasa Arab yang aku pelajari. Selama belajar aku hanya menerima materi dari ustadz kemudian aku coba pahami dan hafalkan. Namun tetap saja aku merasa belum mendapatkan hasil yang memuaskan. Bahkan aku masih belum bisa membuat kalimat dalam bahasa Arab dengan baik dan lancar pada waktu itu. Padahal aku sudah belajar cukup lama. Bukankah waktu enam bulan terbilang cukup lama. Mestinya minimal aku sudah bisa membuat kalimat sederhana dalam bahasa Arab dengan lancar. Tapi ternyata, masih banyak hal yang membuat aku bingung. Terutama yang menyangkut perubahahan bentuk fi’il (kata kerja). Ketika diadakan ujian, nilaiku masih jauh dari memuaskan.</p>
<p>Pernah suatu ketika aku bertanya kepada salah seorang ustadz yang mengajarku. Bagaimana caranya agar bisa menguasai bahasa Arab? Ustadz yang aku tanya pun menjawab sambil bergurau, “Kalau mau bisa bahasa Arab ya harus mondok di pesantren”. Jawaban ini tentu saja tidak memuaskanku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Liburan Panjang</p>
<p>Di kampusku setiap kenaikan tingkat ada liburan panjang. Kurang lebih dua bulan lamanya. Biasanya para mahasiswa menggunakan waktu liburan untuk pulang ke daerahnya masing-masing.</p>
<p>Waktu itu aku tidak langsung pulang ke kampungku. Sebab aku diminta untuk menjadi panitia acara pesantren kilat selama sepuluh hari. Acara ini diselenggarakan di sebuah masjid yang terletak tidak jauh dari kampusku. Lokasinya berada di kaki gunung.</p>
<p>Suatu hari, ketika acara pesantren kilat sedang berlangsung, panitia diminta oleh pembina acara untuk mencari dana tambahan. Aku dan seorang kawanku diutus untuk mengajukan proposal ke yayasan Z yang ada di kota B. Karena jaraknya cukup jauh, maka kami berangkat ke yayasan itu dengan menaiki kereta api.</p>
<p>Ketika sedang dalam perjalanan menuju yayasan Z, aku sempat melewati pedagang buku bekas yang ada di pinggiran jalan. Aku iseng-iseng melihatnya. Ketika sedang melihat-lihat, mataku tertuju pada dua buah buku bahasa Arab. Kedua buku itu sudah terlihat tua. Kertasnya sudah agak menguning dan sampulnya terlihat kusam. Yang pertama buku “Fighul Lughoh 2” karya Umar Hubeis dan A. Yazid, dan yang kedua buku “Kitabut Tashrif 1-3” karya Hasan bin Ahmad. Setelah sedikit terjadi tawar-menawar, akhirnya aku pun memutuskan untuk membeli kedua buku itu.</p>
<p>Saat singgah di sebuah masjid untuk melakukan sholat, aku coba buka-buka buku yang barusan aku beli. Buku Fighul Lughoh berisi penjelasan tentang macam-macam huruf dalam bahasa Arab dan juga sedikit ilmu shorof. Dalam buku itu diajarkan juga cara menulis “khot riq’ah”. Buku itu tidak semuanya bertuliskan Arab. Ada beberapa kata atau kalimat yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sehingga memudahkan aku untuk membacanya.</p>
<p>Adapun <em>Kitabut Tashrif</em> berisi penjelasan tentang ilmu shorof. Didalamnya dijelaskan cara-cara pembentukan kata. Ketika awal membuka buku ini aku agak kaget juga. Sebab isinya bahasa Arab semua. Padahal aku belum bisa membaca kitab gundul. Sehingga baru sebentar aku buka, langsung aku tutup lagi. Tapi aku tetap berharap untuk bisa membacanya di kemudian hari.</p>
<p>Selesai acara pesantren kilat aku pun kemudian pulang ke rumah. Sebelum pulang, aku sudah siapkan beberapa buku kaidah bahasa Arab yang akan aku pelajari di rumah. Diantara buku yang aku bawa pulang ialah buku-buku kaidah nahwu, shorof, i’rob, dan muhadatsah. Disamping itu aku juga membawa beberapa kitab gundul untuk latihan membaca kitab di rumah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Belajar Sendiri</p>
<p>Ketika awal-awal berada di rumah, aku coba buka-buka buku <em>Kitabut Tashrif</em>. Aku coba baca bagian awal yang berupa kata pengantar. Setelah aku perhatikan baik-baik, ternyata buku itu tidak 100% berisi “bahasa Arab asli”. Buku itu ternyata banyak berisi bahasa Arab melayu. Jadi sama saja dengan bahasa Indonesia sebenarnya. Hanya saja ditulis dengan huruf-huruf hijaiyyah. Misalnya “aku” ditulis “ﺍﻛﻮ“.</p>
<p>Pelan-pelan aku baca buku <em>Kitabut Tashrif</em>. Lembar demi lembar aku baca. Ternyata buku ini begitu mudah untuk dipahami. Setelah membaca beberapa lembar, aku pun kemudian baru tersadar. Ternyata inilah yang aku cari selama ini!</p>
<p>Selama belajar bahasa Arab, aku selalu dijejali dengan kaidah nahwu. Hampir tidak pernah aku diajari kaidah shorof. Sehingga selama ini yang aku ketahui fi’il itu hanya terdiri dari tiga huruf. Ternyata aku keliru. Ternyata banyak bentuk-bentuk fi’il yang belum aku ketahui. Padahal fi’il-fi’il itu banyak digunakan dalam penulisan kitab. Jadi wajar saja kalau selama ini aku masih merasa kesulitan untuk membaca kitab gundul. Ternyata aku lemah di ilmu shorof. Maka aku pun kemudian memutuskan untuk fokus belajar ilmu shorof.</p>
<p>Aku baca sendiri buku <em>Kitabut Tashrif</em>. Lembar demi lembar aku baca dan pahami sendiri. Setiap hari aku hafalkan pola-pola pembentukan kata yang ada di dalamnya. Cara menghafalku begini:</p>
<p>v  Aku baca dulu, kemudian aku ucapkan dengan suara keras: “Fa’ala – Yaf’ulu – Fa’lan &#8211; ……Nashoro – Yanshuru – Nashron &#8211; ……”. Setelah itu aku tulis pola-pola pembentukan kata beserta contoh-contohnya di kertas sambil berlatih menulis huruf-huruf Arab.</p>
<p>v  Aku tulis pola-pola pembentukan kata di kertas ukuran besar kemudian aku tempelkan di didinding kamarku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dari pagi hingga malam aku belajar bahasa Arab sendiri di rumah. Aku tetap fokuskan pada menghafal pola-pola pembentukan kata. Namun tak lupa juga aku pelajari ilmu nahwu. Aku baca kaidah-kaidah nahwu dari awal sampai akhir. Aku membacanya berulang-ulang. Aku juga belajar cara-cara melakukan i’rob. Menjelang akhir liburan, aku sudah menghafal sekitar 80% dari seluruh pola pembentukan kata yang ada dalam <em>Kitabut Tashrif</em>. Aku juga sudah menyelesaikan membaca beberapa buku kaidah nahwu.</p>
<p>Setelah membaca dan memahami buku <em>Kitabut Tashrif</em> dari awal hingga akhir, aku merasakan perubahan yang besar dalam kemampuanku membaca kitab gundul. Aku merasakan kemudahan dalam membaca kata demi kata. Namun, karena ilmu nahwuku masih lemah, terkadang aku masih kesulitan dalam nenentukan kedudukan sebuah kata dalam kalimat. Aku masih sering bingung dalam menentukan kedudukan sebuah kata dalam kalimat. Akibatnya aku tidak bisa memberikan harokat akhir sebuah kata dengan tepat. Jika aku ragu dengan harokat akhir sebuah kata, maka kata itu aku sukunkan saja harokat akhirnya. Sebab aku pernah diberitahu oleh seorang kawan bahwa dalam membaca kitab gundul itu ada kaidah “taskun taslam”. Artinya “engkau sukunkan maka engkau akan selamat”. Jadi kalau kita ragu tentang harokat akhir sebuah kata, maka kita sukunkan saja. Meskipun kita sukunkan, orang yang bisa bahasa Arab tentu faham dengan maksud dari kata yang disukunkan itu. Aku juga sering mendengar para ustadz ketika membaca kitab di pengajian, mereka sering mensukunkan harokat akhir sebuah kata, padahal mestinya kata itu berharokat selain sukun. Tapi para jama’ah yang mengerti bahasa Arab tentu faham dengan maksud dari kata itu.</p>
<p>Selama di rumah, aku juga berusaha untuk memperbanyak kosa kata bahasa Arabku. Setiap contoh kata kerja yang ada dalam <em>Kitabut Tashrif</em> aku coba hafalkan. Sebagian kata-kata itu bahkan aku tulis di kertas ukuran besar kemudian aku gantung di dinding. Aku juga menuliskan bahasa Arab dari setiap benda yang ada di rumahku, seperti TV, kamar mandi, lemari, WC, dll.</p>
<p>Selain itu, aku juga mencoba untuk memperbanyak mufrodat dengan cara membaca dan memahami kitab-kitab para ulama. Setiap ada kata yang aku tidak tahu artinya, langsung aku cari dalam kamus. Kemudian aku tulis arti kata itu di halaman yang sama. Kemudian aku baca kitab itu secara berulang-ulang hingga aku benar-benar paham dengan isinya.</p>
<p>Dari beberapa cara menghafal mufrodat yang pernah aku lakukan, aku merasa cara yang paling efrektif ialah dengan langsung menggunakan kitab. Sebab dengan menghafal kata dalam bentuk rangkaian kata akan lebih berkesan dibanding cuma menghafal kata perkata. Pernah juga aku menghafal mufrodat dengan cara menuliskan kata-kata yang ingin aku hafal dalam sebuah kertas ukuran kecil. Kemudian kertas itu aku tempel di tempat-tempat yang kemungkinan akan aku sering lihat, misalnya di dekat cermin, di balik pintu kamar, dll. Ternyata cara ini sangat tidak efektif. Aku  malah jarang memperhatikan mufrodat-mufrodat itu. Sehingga aku pun tidak pernah hafal-hafal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Belajar Menulis Indah</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ketika awal-awal belajar bahasa Arab, aku tidak mempedulikan masalah tulisan. Bagiku waktu itu, asalkan bisa menyambung huruf demi huruf dengan benar, itu sudah cukup. Wajar saja jika tulisanku waktu itu masih jauh dari dikatakan bagus. Bahkan bisa dikatakan berantakan. Sebab tulisanku tidak beraturan bentuknya. Kadang begini, kadang begitu. Tidak konsisten.</p>
<p>Waktu itu belum ada keinginan dalam diriku untuk memperbagus tulisan. Sebab aku melihat guru-guru bahasa Arabku pun tulisannya tidak jauh beda dengan tulisanku. Mereka juga tidak mempermasalahkan keindahan tulisan. Hanya ada satu orang yang aku lihat tulisannya bagus. Tulisannya rapih dan konsisten. Dialah kawanku seangkatan yang alumnus Gontor itu.</p>
<p>Dari dialah kemudian aku baru tahu kalau menulis pun tenyata ada seninya. Dia menunjukkan kepadaku sebuah buku yang berisi berbagai macam jenis tulisan (khot) Arab. Ternyata banyak sekali jenis-jenis tulisan Arab. Dari sekian banyak jenis tulisan, aku tertarik dengan <em>khot riq’ah</em>. Aku pun kemudian tergerak untuk mempelajarinya.</p>
<p>Seperti halnya kaidah bahasa Arab, belajar menulis pun aku lakukan sendiri. Caranya yaitu dengan meniru bentuk-bentuk <em>khot riq’ah</em> yang ada dalam buku Fiqhul Lughoh 2 yang aku punya. Aku tulis berulang-ulang hingga tanganku terbiasa menulis huruf dengan bentuk yang sama. Sepertinya cara belajarku mirip dengan belajar menulis indah ketika SD dahulu. Sewaktu SD aku dapat pelajaran menulis indah. Buku yang digunakan ialah buku bergaris tiga. Di buku itu biasanya aku diberi tugas menulis sebuah kalimat secara berulang-ulang. Tulisannya harus bagus dan sama dari atas ke bawah. Diantaranya yang aku masih ingat, aku pernah menulis kalimat “Rajin Pangkal Pandai”, “Hemat Pangkal Kaya”, “Waktu Itu Uang”, dll.</p>
<p>Setelah terus menerus berlatih, <em>alhamdulillah</em> tulisanku semakin membaik. Dari hari ke hari tulisanku semakin rapi. Sekarang aku sudah bisa membedakan cara menulis huruf <em>fa</em> dengan huruf <em>qof</em>, huruf <em>kaf</em> dengan huruf <em>lam</em>, huruf <em>ba-ta-tsa</em> dengan huruf <em>nun</em>, dll. Beda sekali dengan dulu. Kalau dulu aku tidak peduli mana huruf yang seharusnya ditulis di atas garis dan di bawah garis. Pokoknya asal tulis saja. Yang penting jadi tulisan.</p>
<p>Awal berlatih, tulisanku masih belum bisa konsisten. Tapi lama kelamaan, setelah terus berlatih, mulailah ada keteraturan. Hingga akhirnya tulisanku cukup membuat beberapa orang yang baru saja mengenalku menyangka bahwa aku adalah orang pondokan.  Sebab mereka melihat tulisanku lain daripada yang lain.</p>
<p> Kuliah Bahasa Arab</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Setelah memahami ilmu shorof, aku merasa semakin mudah dalam membaca kitab gundul. Hanya saja kelemahanku waktu itu, aku masih tetap belum memahami inti dari ilmu nahwu. Ilmu nahwuku masih lemah. Belum semua istilah dalam ilmu nahwu dasar aku kuasai dengan baik. Sehingga aku pun kemudian beralih untuk memfokuskan belajar ilmu nahwu. Aku baca-baca kembali kitab nahwu yang sudah aku miliki.</p>
<p>Kebetulan waktu itu di dekat rumahku ada sebuah institut yang baru berdiri. Namanya Institut AM. Institut ini menyelenggarakan program D1 Bahasa Arab. Aku pun tertarik untuk mengikutinya karena memang aku sangat ingin sekali menguasai bahasa Arab. Jadi waktu itu aku seminggu full kuliah. Senin sampai Jum’at aku kuliah di kampus ABC, sedangkan Sabtu dan Minggu aku kuliah di kampus AM.</p>
<p>Setiap Sabtu malam dan Minggu siang aku kuliah bahasa Arab. Waktu kuliahnya tidak terlalu lama. Hanya dua jam setiap pertemuan. Satu jam belajar <em>muhadatsah</em> dan satu jam lagi belajar kaidah nahwu-shorof.</p>
<p>Setelah beberapa bulan kuliah, aku merasa kurang puas dengan ilmu yang aku dapat. Masih terlalu dasar. Memang mahasiswa yang kuliah di situ kebayakan, bahkan hampir semua, baru belajar bahasa Arab. Sehingga dosen yang mengajar hanya menyampaikan materi-materi yang dasar terlebih dahulu. Padahal aku inginnya mendapatkan materi tingkat lanjutan. Akhirnya, karena aku merasa tidak mendapatkan kemajuan yang berarti, aku memutuskan untuk tidak meneruskan kuliah bahasa Arab-ku di situ.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Koleksi Buku</p>
<p>Kesenanganku belajar bahasa Arab membuatku menjadi gemar mengumpulkan buku-buku yang berhubungan dengan bahasa Arab. Setiap aku berkunjung ke toko buku, kemudian aku lihat ada buku kaidah bahasa Arab yang menurutku bagus, maka aku pun kemudian tertarik untuk membelinya. Kemudian, ketika aku sedang bermain ke tempat teman dan aku lihat dia punya buku kaidah bahasa Arab yang bagus, maka aku pun tertarik untuk membelinya juga. Kurang lebih ada 20 buku kaidah bahasa Arab yang sudah aku punya pada waktu itu. Hingga kini, kegemaranku ini masih terus berlanjut.</p>
<p>Dari hasil membaca semua buku yang aku punya, ada pelajaran berharga yang aku dapat. Diantaranya ialah, bahwa tiap-tiap buku memiliki kelebihan masing-masing. Kadang aku masih merasa belum puas dengan penjelasan di sebuah buku. Namun di buku lain aku mendapat penjelasan yang sangat memuaskan. Jadi tiap-tiap buku saling melengkapi.</p>
<p>Selain rajin membeli buku, aku juga rajin memfotokopi. Umumnya yang aku fotokopi adalah buku-buku yang memang sudah tidak dijual lagi di toko-toko buku. Atau buku-buku yang memang sangat langka.</p>
<p>Waktu itu, tidak hanya buku-buku kaidah bahasa Arab yang berusaha aku kumpulkan. Tapi aku juga berusaha mengumpulkan kitab-kitab para ulama. Setiap ada kitab yang menurutku menarik, aku pun lantas memfotokopinya. Kitab-kitab itulah yang kemudian aku gunakan untuk latihan membaca kitab gundul. Seingatku, kitab yang pertama kali aku miliki adalah kitab <em>Syarhu Tsalaatsatil Ushuul</em> karya Syaikh Utsaimin <em>rohimahulloh</em>. <br /> Membaca Kitab</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kemajuanku dalam bahasa Arab semakin mendorongku untuk semakin giat belajar. Aku semakin tertarik untuk terus mempelajari kaidah-kaidah bahasa Arab. Setelah menyelesaikan beberapa buku kaidah nahwu-shorof, aku pun kemudian fokuskan berlatih membaca kitab gundul.</p>
<p>Berbagai macam cara pernah aku lakukan dalam berlatih membaca kitab gundul. Diantaranya ialah membaca kitab-kitab ulama yang dicetak dalam dua versi. Versi pertama tanpa harokat (gundul), dan versi kedua telah diharokati (gondrong).</p>
<p>Waktu itu aku memiliki beberapa kitab ulama yang dicetak dalam dua versi ini. Diantaranya ialah kitab <em>Al-Ushul Ats-Tsalatsah</em>. Pertama-tama yang aku lakukan ialah membaca kitab gundulnya terlebih dahulu. Aku coba beri harokat sendiri berdasarkan kaidah nahwu-shorof yang sudah aku kuasai. Kemudian aku coba cocokkan dengan kitab satunya lagi yang sudah berharokat.</p>
<p>Selain cara seperti ini, aku juga pernah melakukan cara lain. Pertama-tama aku minta seorang teman untuk memberi harokat kitab Arab gundul yang aku punya. Setelah itu aku coba analisis sendiri setiap harokat akhir kata yang terdapat dalam kitab itu. Kenapa kok dhommah, kenapa fathah, kenapa kasroh, dst.</p>
<p>Sebenarnya cara seperti ini terbilang kurang efektif. Terlalu lama dan belum membuat aku mantap dalam membaca kitab. Meskipun aku bisa memberi harokat akhir sebuah kata, namun terkadang aku masih ragu dengan kedudukan kata itu. Sebab sebuah kata dengan kedudukan yang berbeda, bisa saja memiliki harokat akhir yang sama. Terutama yang berharokat fathah.</p>
<p>Menurutku cara yang paling efektif ialah dengan membacakan kitab gundul di hadapan seorang guru yang bisa berbahasa Arab. Caranya yaitu dengan kita harokati sendiri terlebih dahulu sebuah kitab gundul. Kemudian kita bacakan hasil pengharokatan kita itu di hadapan seorang guru. Hal ini akan lebih banyak manfaatnya. Pertama, kita akan langsung mendapatkan pembetulan jika kita salah memberi harokat. Kedua, kita bisa minta penjelasan langsung dari guru tentang kedudukan sebuah kata yang kita masih belum tahu atau kita masih ragu. Sayangnya, aku tidak punya orang yang bisa aku jadikan sebagai guru yang bisa membimbingku membaca kitab secara langsung. Sehingga aku lebih sering berlatih sendiri dengan cara yang sudah aku ceritakan tadi.</p>
<p>Namun, walaupun aku tidak mempunyai pembimbing, aku tetap tekun berlatih membaca kitab. Beberapa kitab ulama sudah aku coba membacanya sendiri. Aku juga kadang suka teriak-teriak sendiri sambil membaca kitab-kitab ulama. Tujuanku ialah untuk melemaskan lidahku dalam mengucapkan huruf-huruf Arab. Karena sering latihan, <em>alhamdulillah</em> aku semakin lancar dalam membaca kitab. Walaupun belum selancar ustadz di pengajian, tapi paling tidak ada perubahan ke arah yang lebih baik dibanding kemampuanku sebelum-sebelumnya.</p>
<p>Pernah suatu ketika seorang kawanku yang kuliah di LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) berkunjung ke kosanku. Aku pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku minta dia untuk membimbingku membaca kitab gundul. Dia pun menyanggupi. Beberapa kali aku membacakan kitab gundul di hadapannya. Sambil menyimak, dia bertanya kepadaku tentang i’rob sebuah kata. <em>Alhamdulillah</em> hampir semua pertanyaannya bisa aku jawab dengan baik.</p>
<p>Aku juga pernah punya pengalaman membaca kitab di hadapan seorang syaikh murid Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin <em>rohimahulloh</em>. Ceritanya waktu itu aku mengikuti sebuah acara dauroh (pesantren kilat) yang diadakan oleh sebuah pondok pesantren. Dauroh itu berlangsung selama sekitar setengah bulan (15 hari). Yang mengajar berasal dari Saudi. Ada empat orang syaikh yang mengajar. Karena mereka tidak bisa bahasa Indonesia, maka dauroh ini menggunakan bahasa Arab. Tidak ada penerjemah. <em>Alhamdulillah</em> sebelumnya aku sudah sering latihan mendengar ceramah ulama. Sehingga aku bisa menangkap isi materi yang disampaikan oleh para pengajar. Walaupun tidak sampai 100%. Tapi paling tidak aku paham dengan maksud dari materi yang disampaikan.</p>
<p>Karena pengisi dauroh semuanya orang Arab, maka kitab yang diajarkan pun semuanya berbahasa Arab. Diantaranya kitab <em>Manhajus Salikin</em> karya Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’di <em>rohimahulloh</em>, kitab <em>Syarhu Tsalatsatil Ushul</em> karya Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin <em>rohimahulloh</em>, dll. Suatu ketika seorang Syaikh memintaku untuk membacakan kitab di kelas. Aku pun kemudian membacanya. <em>Alhamdulillah</em> bacaanku benar semua. Tidak ada yang keliru.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mediakeluargasakinah.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mediakeluargasakinah.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mediakeluargasakinah.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mediakeluargasakinah.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mediakeluargasakinah.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mediakeluargasakinah.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mediakeluargasakinah.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mediakeluargasakinah.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mediakeluargasakinah.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mediakeluargasakinah.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mediakeluargasakinah.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mediakeluargasakinah.wordpress.com/57/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mediakeluargasakinah.wordpress.com/57/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mediakeluargasakinah.wordpress.com/57/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mediakeluargasakinah.wordpress.com&amp;blog=12086050&amp;post=57&amp;subd=mediakeluargasakinah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/2011/05/31/kisah-suka-duka-belajar-bahasa-arab-tanpa-guru-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a82e6eceaacc823c3430358364b3d99d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mediakeluargasakinah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Suka Duka Belajar Bahasa Arab Tanpa Guru (4)</title>
		<link>http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/2011/05/31/kisah-suka-duka-belajar-bahasa-arab-tanpa-guru-4/</link>
		<comments>http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/2011/05/31/kisah-suka-duka-belajar-bahasa-arab-tanpa-guru-4/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 May 2011 04:45:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mediakeluargasakinah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Pengajian Sang Ustadz Setiap minggu siang, bersama AK dan beberapa teman yang lain, aku datang ke sebuah pengajian. Pengajian itu diisi oleh seorang ustadz yang sangat mumpuni keilmuannya. Sebab Sang Ustadz berguru langsung dengan ulama besar yang terkenal yang ada di timur tengah sana. Dalam setiap kajiannya sang ustadz membahas kitab-kitab para ulama. Diantaranya beliau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mediakeluargasakinah.wordpress.com&amp;blog=12086050&amp;post=54&amp;subd=mediakeluargasakinah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pengajian Sang Ustadz</p>
<p>Setiap minggu siang, bersama AK dan beberapa teman yang lain, aku datang ke sebuah pengajian. Pengajian itu diisi oleh seorang ustadz yang sangat mumpuni keilmuannya. Sebab Sang Ustadz berguru langsung dengan ulama besar yang terkenal yang ada di timur tengah sana.</p>
<p>Dalam setiap kajiannya<span id="more-54"></span> sang ustadz membahas kitab-kitab para ulama. Diantaranya beliau membahas kitab Bulughul Marom karya Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqolani dan kitab Riyadhus Sholihin karya Imam An-Nawawi.</p>
<p>Ketika menjelaskan kitab-kitab para ulama, beliau tidak asal menjelaskan dari pendapat pribadinya. Beliau banyak membawakan perkataan para ulama. Jadi dalam kajiannya beliau tidak berkata, “Menurut pendapat saya begini……”. Tidak, beliau tidak mengajar demikian! Tapi beliau selalu berkata, “Berdasarkan dalil-dalil dari al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih serta menurut penjelasan para ulama maka pendapat yang kuat tentang permasalah ini adalah…….…….karena……”.</p>
<p>Beliau senantiasa mengajarkan kepada peserta kajian untuk selalu bersikap kritis dalam beragama. Beliau senantiasa mengingatkan untuk tidak mudah menerima pendapat seseorang kecuali jika telah jelas-jelas berdasarkan dalil yang tegas dari al-Qur’an dan hadits-hadits yang shahih. <strong><span style="text-decoration:underline;">Beliau melarang kami untuk taklid, yaitu melakukan sesuatu tanpa mengetahui dalilnya. </span></strong></p>
<p>Dari beliau aku baru tahu bahwa dalam memahami Islam tidak bisa seenaknya. Kita tidak bisa memahami Islam dengan pemahaman pribadi kita. Tidak bisa kita membaca Al-Qur’an dan Al-Hadits lantas kita berkata, “Menurut saya maksudnya begini…”. Memangnya kita siapa! Kita harus memahaminya sesuai dengan pemahaman yang benar, yaitu yang dipahami oleh para Sahabat Rosul. Kenapa harus Sahabat Rosul?</p>
<p>Diantara alasannya adalah karena mereka adalah generasi yang paling mengetahui tentang ayat dan hadits. Sebab  mereka hidup di jaman turunnya wahyu. Wahyu turun di tengah-tengah mereka, dan mereka mengamalkannya sesuai bimbingan Rosululloh <em>Shollallohu ‘alaihi wa sallam</em>. Jika ada yang belum mereka pahami, langsung mereka tanyakan kepada Rosululloh. Dan, jika pengamalan mereka keliru, Rosululloh <em>Shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> langsung meluruskannya.</p>
<p>Oleh karena itu, para Sahabat adalah manusia yang paling berilmu, paling mendalam pemahamannya terhadap Al-Quran dan hadits, paling bagus pengamalannya, dan paling setia mengikuti contoh Rosululloh <em>Shollallohu ‘alaihi wa sallam</em>. Mereka mendapat bimbingan langsung dari guru terbaik di kolong jagat ini, yaitu Rosululloh <em>Shollallohu ‘alaihi wa sallam</em>. Kita bisa mengenal aqidah, ibadah, dan syari’at Islam lainnya lewat perantaraan para Shahabat. Maka, sudah bisa dipastikan, pemahaman dan pengamalan Islam mereka adalah pemahaman dan pengamalan yang benar.</p>
<p>Banyak sekali dalil yang memerintahkan kita untuk memahami Islam sesuai dengan pemahaman para Sahabat Rosul. Puluhan dalil baik dari Al-Qur’an dan hadits-hadits yang memerintahkan kita untuk memahami Al-Qur’an dan hadits berdasarkan pemahaman mereka. Kita bisa membacanya di kitab-kitab para ulama yang membahas tentang masalah ini. Misalnya kitab <em>I’laamul Muwaqi’iin</em> karya Imam Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah <em>rohimahulloh</em>.</p>
<p>Karena itulah Sang Ustadz senantiasa memenuhi majelisnya dengan perkataan, “Menurut pendapat Abu Bakar begini….Menurut pendapat Umar begitu…..Menurut pendapat Ibnu Mas&#8217;ud……….Abu Huroiroh…….”. Sehingga kami mengamalkan agama dengan perasaan tentram karena yang kami ikuti adalah orang-orang yang sudah dijamin keridhoan dan surga oleh Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>.</p>
<p>Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>  berfirman:</p>
<p>“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Alloh ridho kepada mereka dan merekapun ridho kepada Alloh, dan Alloh menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS. At-Taubah:100)</p>
<p>Dalam ayat ini Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>memberikan jaminan keridhoan dan surga kepada para Sahabat Rosul, baik kalangan Muhajirin maupun Anshor. Maka bisa dipastikan bahwa mereka adalah orang-orang yang telah memahami dan mengamalkan Islam secara benar. Kalau tidak demikian, tidak akan mungkin Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala </em>menjamin keridhoan dan surga kepada mereka. Oleh karena itu, jika kita ingin mendapat jaminan keridhoan Alloh dan surga seperti mereka, kita harus mengikuti jejak mereka, sebagaimana Alloh katakan dalam ayat di atas, “……dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik….”</p>
<p>Setelah beberapa kali mengikuti kajian Sang Ustadz aku jadi tersadar. Ternyata pemahaman agamaku selama ini keliru besar. Selama ini aku beragama cuma berdasarkan “katanya&#8230;.katanya…katanya begini…katanya begitu….” tanpa aku tahu siapa yang berkata dan berpendapat. Aku selama ini beragama tanpa didasari oleh ilmu sama sekali. Padahal Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman:</p>
<p>“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. (QS. Al-Israa:36)</p>
<p>Semestinya, ketika berbicara masalah agama, yang harus aku ucapkan adalah: Alloh berfirman begini….Rosululloh bersabda begini……Para Sahabat Rosul memahami dan mengamalkan begini……”</p>
<p>Imam Al-Auza’i (wafat th. 157 H) <em>rohimahulloh</em> berkata, “Ilmu itu apa yang datang dari para Shahabat Nabi <em>Shollallohu ‘alaihi wa Sallam</em>, adapun yang datang dari selain mereka bukanlah ilmu.” (<em>Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih</em> (I/769, no. 1421) dan <em>Fadhlu ‘Ilmi Salaf ‘alal Khalaf</em> (hal. 42). Lihat Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga, hal. 22)</p>
<p>Imam Ibnul Qoyyim dalam kitab <em>I’laamul Muwaqqi’iin</em> (II/149) mengatakan, “Telah berkata sebagian ahli ilmu: ‘Ilmu adalah firman Alloh, sabda Rosululloh <em>Shollallohu ‘alaihi wa Sallam</em>, dan perkataan para Sahabat. Semuanya tidak bertentangan…..’”. (Lihat Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga, hal. 22).</p>
<p align="center">***</p>
<p>            Sedikit demi sedikit aku pun kemudian mulai memperbaiki diri. Pertama-tama, aku buang jauh-jauh keyakinan menyimpang yang selama ini bercokol di dadaku. Kemudian aku ganti dengan keyakinan yang benar yang sesuai dengan yang diyakini oleh Rosululloh <em>Shollallahu ‘alaihi wa Sallam</em> dan para Shahabat beliau. Aku jadi sering membaca buku-buku yang membahas tentang tauhid.</p>
<p>Aku juga kemudian mulai memperbaiki ibadah ritual yang biasa aku lakukan sehari-hari. Terutama ibadah sholat. Kalau dahulu aku melakukan gerakan sholat tanpa dilandasi ilmu sama sekali. Ketika bertakbir, aku asal saja mengangkat tangan. Aku tidak peduli sampai sebatas mana harus mengangkat tangan. Aku juga tidak peduli bagaimana posisi jari-jemari ketika mengangkat tangan. Pokoknya asal mengangkat tangan saja. Begitu juga saat ruku’ dan sujud. Semuanya aku lakukan tanpa aku ketahui dalil-dalilnya sama sekali.</p>
<p>Setelah aku banyak membaca hadits-hadits yang membahas tentang tata cara sholat, aku baru tahu kalau ternyata kita tidak boleh sembarangan melakukan gerakan sholat. Ada aturannya. Tidak bisa kita asal mengangkat tangan, atau asal ruku’ dan sujud saja. Semua ada aturannya sebagaimana yang dibahas dalam kitab-kitab fikih. Aku juga baru tahu bahwa dalam masalah sholat, Rosululloh <em>Shollallahu ‘alaihi wa Sallam</em> ternyata pernah bersabda, “Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku sholat.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)</p>
<p>Jadi, kita tidak boleh asal-asalan dalam melakukan sholat, baik bacaan maupun gerakannya. Kita harus menyesuaikan sholat kita dengan sholat yang dilakukan oleh Rosululloh <em>Shollallohu ‘alaihi wa Sallam</em>. Bagaimana caranya? Ya tentu saja dengan melihat kepada hadits-hadits yang menceritakan tentang tata cara sholat Rosululloh <em>Shollallohu ‘alaihi wa Sallam.</em> Waktu itu, untuk memperbaiki sholatku, aku membaca buku Shifat Sholat Nabi yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani <em>rohimahulloh. </em>Buku ini berisikan penjelasan yang gamblang tentang tata cara sholat berdasarkan hadits-hadits yang sudah diperiksa kevalidannya oleh para ulama pakar hadits.</p>
<p>Setelah sering mengikuti kajian, aku pun jadi semakin berhati-hati dalam berbicara masalah agama. Aku jadi takut berbicara tanpa ilmu. Terutama ketika menyampaikan hadits. Tidak setiap hadits yang pernah aku dengar langsung aku sampaikan. Kecuali yang telah aku ketahui keabsahannya. Aku tidak ingin dikatakan sebagai orang yang berdusta atas nama Nabi <em>Shollallohu ‘alaihi wa Sallam. </em>Sebab Rosululloh <em>Shollallohu ‘alaihi wa Sallam</em> pernah bersabda:</p>
<h4>مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ</h4>
<p>“Barangsiapa dengan sengaja berdusta atas diriku, maka hendaklah ia bersiap-siap menempati tempat tinggalnya di Neraka.” (HR.Bukhari, Muslim, dll. )</p>
<p>Rosululloh <em>Shollallohu ‘alaihi wa Sallam</em> juga bersabda:</p>
<p>“Janganlah kamu berdusta atas namaku, karena barangsiapa berdusta atas namaku, maka silakan ia masuk Neraka.” (HR. Al-Bukhori, Muslim, Ahmad, At-Tirmidzi, dll.)</p>
<p>“Maksud berdusta atas nama Nabi Muhammad <em>Shollallohu ‘alaihi wa Sallam </em>ialah membuat-buat omongan atau cerita yang sengaja disandarkan kepada Rosululloh <em>Shollallohu ‘alaihi wa Sallam, </em>lalu mengatakan: Rosululloh <em>Shollallohu ‘alaihi wa Sallam </em>pernah bersabda demikian, atau melakukan hal ini dan itu.</p>
<p>Para ulama telah sepakat tentang haramnya membawakan hadits-hadits <em>maudhu’</em> (palsu), yakni hadits yang diada-adakan seseorang atas nama Rosululloh <em>Shollallohu ‘alaihi wa Sallam </em>dengan sengaja maupun tidak sengaja. Diperbolehkan membawakan hadits yang palsu hanya ketika menerangkan kepalsuan kepada ummat agar mereka selamat dari berdusta atas nama Rosululloh <em>Shollallohu ‘alaihi wa Sallam.” </em>(Lihat Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga hal. 290)</p>
<p>Dua hadits di atas merupakan ancaman yang sangat keras bagi orang yang menyampaikan suatu perkataan kemudian dia katakan bahwa itu adalah hadits Rosululloh, padahal kenyataannya bukan. Sayangnya, ancaman dari Rosululloh ini tidak diketahui oleh kebanyakan kaum Muslimin. Sehingga sering kita saksikan, dengan santainya mereka menyampaikan suatu hadits tanpa diketahui siapa perawinya. Pokoknya setiap ada kata-kata yang bagus dan indah yang berkaitan dengan agama, langsung dikatakan bahwa itu adalah hadits. Padahal, setelah diperiksa oleh para pakar hadits, ternyata perkataan itu bukan berasal dari Rosululloh alias hadits palsu.</p>
<p>Aku pun dahulu demikian. Setiap ada perkataan yang menurutku bagus dan berbahasa Arab langsung aku anggap sebagai hadits. Padahal aku belum tahu siapa yang meriwayatkannya dan bagaimana status sanadnya, apakah shohih atau tidak. Setelah mengikuti pengajian Sang Ustadz, aku baru mengetahui bahwa perbuatan seperti ini tidak dibolehkan dalam agama. Dalam majelisnya Sang Ustadz sering mengingatkan untuk berhati-hati dalam menyampaikan hadits. Tidak boleh sembarangan. Nasihat beliau, kita tidak boleh teburu-buru menyampaikan setiap hadits yang kita dengar sampai kita tahu keabsahannya. Sebab Rosululloh <em>Shollallohu ‘alaihi wa Sallam</em> bersabda:</p>
<p>“Cukuplah seseorang dikatakan berdusta apabila ia menyampaikan setiap apa yang dia dengar.” (HR. Muslim).</p>
<p>Imam Ibnu Hibban <em>rohimahulloh</em> berkata, “Di dalam hadits ini ada ancaman bagi seseorang yang  menyampaikan setiap apa yang ia dengar sampai ia tahu dengan seyakin-yakinnya bahwa hadits atau riwayat tersebut shahih.” (Adh-Dhu’afaa [I/9]. Lihat juga <em>Tamaamul Minnah</em> [hal.33]. Lihat buku Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga hal. 292)</p>
<p>Seingatku ada beberapa perkataan yang dahulu aku anggap sebagai sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam. Diantaranya perkataan, “Tuntutlah ilmu meskipun ke negeri Cina.”</p>
<p>Ternyata ini adalah hadits palsu sebagaimana yang dikatakan oleh para ulama pakar hadits. Sebab di dalam sanadnya ada seorang perawi yang bernama Abu Atikah. Imam Ibnul Jauzi berkata dalam kitanya <em>Al-Maudhu’aat</em> (I/216), “Hadits ini tidak sah dari Nabi <em>Shollallohu ‘alaihi wa Sallam</em>…adapun Abu Atikah, Imam Al-Bukhori berkata tentangnya, ‘Munkarul hadits.’ Dan telah berkata Ibnu Hibban, ‘Hadits ini bathil tidak ada asalnya.’” Syaikh Al-Albani mengatakan hadits ini bathil di dalam kitabnya <em>Silsilah Al-Ahaadits Adh-Dha’iifah</em> (no. 416). (Lihat buku Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga hal. 293-294)</p>
<p>Namun kita jangan sampai salah paham! Bukan berarti semua hadits palsu isinya keliru. Bisa jadi isinya benar. Hanya saja kita tidak boleh mengatakan bahwa itu adalah sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wa Sallam. Sebab kita dilarang untuk melakukan hal itu.</p>
<p>Kemudian perlu kita ketahui juga bahwa hadits adalah wahyu dari Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em>, sebagaimana Alloh <em>Subhanahu wa ta’ala</em> berfirman:</p>
<p>“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”. (QS. An-Najm:3-4)</p>
<p>Nah, kalau ada orang yang membuat-buat hadits palsu –meskipun niatnya baik dan isi haditsnya bagus-, maka sama saja dia telah memposisikan dirinya sebagai pembuat wahyu. Hal ini tentu saja sangat berbahaya. Oleh karena itu kita harus berhati-hati dalam menerima dan menyampaikan hadits.</p>
<p><em>            </em></p>
<p align="center">***</p>
<p align="center">
<p>Selain aku dan beberapa teman yang kos di pondok AQ, ternyata ada juga mahasiswa ABC yang ikut kajian di majelisnya Sang Ustadz. Meskipun kuliah di kampus yang sama, namun kami berbeda kos dan berbeda fakultas. Sehingga kami belum saling kenal satu sama lain. Kami pun kemudian saling berkenalan.</p>
<p>Beberapa orang diantara mereka kemudian berencana untuk kos bersama. Mereka pun kemudian mencari-cari rumah kontrakan untuk ditempati bersama. Dan didapatlah sebuah rumah.  Rumah itu tidak besar. Hanya terdiri dari 6 kamar. Namun di rumah itulah semangatku belajar bahasa Arab mulai bersemi indah.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mediakeluargasakinah.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mediakeluargasakinah.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mediakeluargasakinah.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mediakeluargasakinah.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mediakeluargasakinah.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mediakeluargasakinah.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mediakeluargasakinah.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mediakeluargasakinah.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mediakeluargasakinah.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mediakeluargasakinah.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mediakeluargasakinah.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mediakeluargasakinah.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mediakeluargasakinah.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mediakeluargasakinah.wordpress.com/54/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mediakeluargasakinah.wordpress.com&amp;blog=12086050&amp;post=54&amp;subd=mediakeluargasakinah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/2011/05/31/kisah-suka-duka-belajar-bahasa-arab-tanpa-guru-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a82e6eceaacc823c3430358364b3d99d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mediakeluargasakinah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Saat Aku Mengenal Bahasa Arab (3)</title>
		<link>http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/2011/05/31/saat-aku-mengenal-bahasa-arab-3/</link>
		<comments>http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/2011/05/31/saat-aku-mengenal-bahasa-arab-3/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 May 2011 04:41:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>mediakeluargasakinah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Sahabatku AK &#160; Mahasiswa yang tinggal di Pondok AQ semuanya berasal dari luar daerah. Namun kebanyakan masih berada di pulau Jawa. Hanya ada beberapa saja yang berasal dari luar Jawa. Dan yang rumahnya terjauh adalah AK. Dia berasal dari daerah ujung Indonesia. Dia seangkatan denganku. Namun kami berbeda jurusan. Berbeda denganku, AK adalah orang yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mediakeluargasakinah.wordpress.com&amp;blog=12086050&amp;post=52&amp;subd=mediakeluargasakinah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sahabatku AK</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mahasiswa yang tinggal di Pondok AQ semuanya berasal dari luar daerah. Namun kebanyakan masih berada di pulau Jawa. Hanya ada beberapa saja yang berasal dari luar Jawa. Dan yang rumahnya terjauh adalah AK. Dia berasal dari daerah ujung Indonesia. Dia seangkatan denganku. Namun kami berbeda jurusan.</p>
<p>Berbeda denganku, AK adalah<span id="more-52"></span> orang yang sangat perhatian dengan permasalahan agama. Dia tipe orang yang kritis dalam beragama. Dia berusaha untuk mengamalkan ibadah agama di atas landasan ilmu, bukan ikut-ikutan. Oleh karena itulah dia banyak membaca buku-buku Islam. Di rak bukunya banyak terdapat buku-buku bacaan Islami tentang berbagai permasalahan, seperti aqidah, fiqih, dll.</p>
<p>Aku dan dia cukup berteman baik. Aku sering berkunjung ke kamarnya. Aku pun sering meminjam buku-buku agama koleksinya. Lewat perantaraan dialah aku mengetahui bagaimana seharusnya seorang Muslim itu memahami agamanya.</p>
<p>AK sering mengajukan pertanyaan seputar permasalahan agama yang membuatku penasaran. Pernah suatu ketika dia mengajukan sebuah pertanyaan tentang aqidah kepadaku dan kepada kawan-kawan yang sedang ngobrol-ngobrol dikamarku. Dia bertanya, “Di mana Alloh?”. Kami semua sepakat menjawab, “Di mana-mana.” Dia pun kemudian membantah, “Kalau begitu Alloh ada di tempat-tempat kotor juga dong, seperti di WC, selokan, dll.”</p>
<p>Setelah kejadian itu, aku pun berusaha mencari tahu tentang permasalahan ini. Sebab aku pikir AK benar juga. Kalau Alloh di mana-mana berarti Alloh bisa ada di tempat-tempat kotor. Setelah banyak membaca, aku baru tahu kalau ternyata Alloh <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> itu berada di atas langit. Dalilnya banyak terdapat di dalam al-Qur’an dan hadits-hadits Rosululloh <em>Shollallohu ‘alaihi wa Sallam</em>. Bahkan Imam Ibnu Abil ‘Izzi <em>rohimahulloh</em> dalam kitab <em>Syahul ‘Aqiidah Ath-Thohawiyah</em> (hal.288) berkata bahwa dalil-dalil tentang keberadaan Alloh di atas langit jika dijabarkan satu persatu bisa mencapai sekitar seribu dalil!” (Silakan lihat kitab <em>Al-Qoulul Mufiid fii Adillatit Tauhiid</em>, hal. 41)</p>
<p>Dan secara fitrah pun sebenarnya kita  mengakui bahwa Alloh berada di atas langit. Bukankah ketika kita berdo’a kita menghadapkan hati kita ke atas langit, bukannya kemana-mana. Akal yang sehat pun menerima hal ini. Bukankah Rosululloh di-mi’rojkan oleh Alloh ke atas langit untuk berjumpa dengan-Nya? Namun, karena sejak SD aku sudah diajarkan bahwa Alloh berada di mana-mana, maka itulah yang aku yakini selama ini. Aku masih ingat ketika SD diajarkan oleh guru agamaku bahwa “Alloh itu Esa, tapi Alloh ada di mana-mana”. Aku pun asal terima saja perkataan guruku ini tanpa ada keinginan untuk bertanya tentang dalil bahwa Alloh itu ada di mana-mana. Padahal kalau kita baca-baca dalil dalam al-Qur’an dan hadits-hadits Rosul, niscaya akan kita dapati penjelasan yang gamblang bahwa Alloh berada di atas langit. Apalagi kalau kita baca pernyataan para ulama dari kalangan Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabiin dan para ulama yang mengikuti jejak mereka dengan baik, mereka semua bersepakat bahwa Alloh berada di atas langit.</p>
<p>Misalnya Imam Syafi’i <em>rohimahulloh</em> pernah berkata:</p>
<p>”Dan sesungguhnya Alloh di atas ’Arsy-Nya di atas langit-Nya.”</p>
<p>Imam Malik pun, gurunya Imam Syafi’i, pernah berkata:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>“Alloh berada di atas langit, sedangkan ilmu-Nya di setiap tempat, tidak tersembunyi sesuatu pun dari-Nya.”<a title="" href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p align="center">***</p>
<p align="center">
<p>            Beberapa kali AK mengajukan pertanyaan kepadaku yang membuatku jadi bersemangat untuk mengoreksi kembali amalan ibadahku selama ini. Aku pun kemudian jadi tertarik untuk mengkaji lebih dalam tentang Islam. Aku berusaha untuk menggali informasi sebanyak-banyaknya seputar pelaksanaan ibadah yang aku lakukan selama ini. Aku jadi senang membeli buku-buku bacaan Islami. Dan akhirnya aku pun dipertemukan dengan sebuah kajian yang beda dengan yang pernah aku hadiri selama ini.  Kajian itu diisi oleh “Sang Ustadz” murid ulama besar Saudi Arabia.</p>
<div></p>
<hr align="left" size="1" width="33%" />
<div>
<p><a title="" href="#_ftnref1">[1]</a> Bagi Anda yang ingin mendapatkan penjelasan lengkap tentang “Di Mana Alloh?”, silakan baca buku karya Al-Ustadz Abu Ubaidah yang berjudul “Di Mana Alloh?”. Atau baca juga buku Al-Masaa-il Jilid 1 karya Al-Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/mediakeluargasakinah.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/mediakeluargasakinah.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/mediakeluargasakinah.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/mediakeluargasakinah.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/mediakeluargasakinah.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/mediakeluargasakinah.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/mediakeluargasakinah.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/mediakeluargasakinah.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/mediakeluargasakinah.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/mediakeluargasakinah.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/mediakeluargasakinah.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/mediakeluargasakinah.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/mediakeluargasakinah.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/mediakeluargasakinah.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=mediakeluargasakinah.wordpress.com&amp;blog=12086050&amp;post=52&amp;subd=mediakeluargasakinah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://mediakeluargasakinah.wordpress.com/2011/05/31/saat-aku-mengenal-bahasa-arab-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/a82e6eceaacc823c3430358364b3d99d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">mediakeluargasakinah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
